Berita DI Yogyakarta Hari Ini

Mengenal Jalan Rukunan di Kelurahan Gedongkiwo

Seiring berjalannya waktu, kini Jalan Rukunan juga sering dipergunakan sebagai akses masyarakat yang hendak bepergian.

Penulis: Neti Istimewa Rukmana | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM / Neti Istimewa Rukmana
Bentuk fisik Jalan Rukunan di Kelurahan Gedongkiwo, Kemantren Mantrijeron, Kota Yogyakarta, Senin (19/9/2022). 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Ada banyak catatan sejarah yang bevariasi di setiap sudut Kota Yogyakarta.

Satu di antarannya adalah Jalan Rukunan yang berada tepat di Kelurahan Gedongkiwo, Kemantren Mantrijeron, Kota Yogyakarta.

Ketua Kelompok Sadar Wisata Kelurahan Gedongkiwo, Anton Subiyanto mengatakan, jalan tersebut telah ada sejak beberapa puluh tahun yang lalu.

"Jalan itu sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda dan direvisi di zaman Jepang serta zaman Kemerdekaan RI," kata Anton kepada Tribunjogja.com , Senin (19/9/2022).

Baca juga: Kisah Mbah Yono yang Namanya Diabadikan dalam Prasasti Bersama 600 Pemugar Candi Borobudur

Jalan itu pun belum disahkan oleh pemerintah.

Akan tetapi, beberapa warga menyebutnya sebagai Jalan Rukunan.

Sedangkan, anak-anak muda sering menyebutnya dengan nama Dalan Kelinci atau Jalan Kelinci.

Dahulu, jalan tersebut diperuntukkan sebagai akses membawa keranda ketika menuju makam.

Namun, berkembangnya zaman disertai berkembangnya penduduk di sekitar jalan tersebut, kini Jalan Rukunan juga sering dipergunakan sebagai akses masyarakat yang hendak bepergian.

Jalan Rukunan tidak memiliki patokan atau titik awal dan titik akhir.

Sebab, jalan itu saling menyatu dan seolah-olah berbentuk labirin.

Kendati demikian, Anton belum mengetahui panjang Jalan Rukunan itu.

"Belum kami ukur. Apalagi jalan itu berliku-liku dan ada yang saling berhubungan. Tapi, untuk lebarnya bisa satu sampai dua meter. Minimal jalan itu bisa lah untuk dilintasi orang yang membawa keranda," imbuh Anton.

Jalan itu pun melintasi beberapa obyek wisata serta melintasi 18 RW. 

Pasalnya, di Kelurahan Gedongkiwo terdapat wisata rintisan yang bernama Kampung Wisata Gedongkiwo.

Sehingga masing-masing RW memiliki obyek wisata tersendiri. 

Baca juga: Menelisik Kisah Dusun Tak Berpenghuni alias Dusun Mati di Kabupaten Magelang

Obyek wisata itu di mulai dari pabrik tahu tradisional, becak tradisional atau becak yang tidak menggunakan tenaga motor, wisata jemparingan, tembok mural sepanjang 200 meter, tempat pembuat batik tulis, kerajinan kulit modern, hingga beberapa UMKM lainnya.

Tempat itu juga bisa dikunjungi oleh wisatawan yang ingin mengenal kebudayaan di Kota Yogyakarta lebih dalam.

Selanjutnya, Anton turut menjelaskan sisi keunikan yang ada di wilayah itu.

"Uniknya di tempat kami, setiap ketemu orang di jalan harus saling menyapa. Terlebih anak muda yang bertemu dengan sesepuh atau orang tua. Harus itu anak muda menyapa mereka," kata Anton.

Hal itu menjadi bukti bahwa budaya akan kerukunan antar warga di daerah itu masih terus terjaga dengan baik.

"Apalagi kalau ada wisatawan yang masuk di tempat kami, pasti kami ajarkan wisatawan itu untuk mengenal kata monggo dan nderek langkung sebagai bentuk penghormatan atau kesopanan kepada orang-orang di sekitarnya," tutup Anton.( Tribunjogja.com )

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved