Konflik China Taiwan

Militer China Kembali Gelar Latihan Besar di Dekat Taiwan

Latihan besar militer China digelar Komando Timur PLA di Nanjing dan Guangdong melibatkan semua unsur darat, laut dan udara.

Penulis: Krisna Sumarga | Editor: Krisna Sumarga
China Military/Global Times
ARMADA kapal perang China berlayar di perairan Laut China Selatan dalam rangkaian latihan gugus tugas luat. China memperingatkan kunjungan Ketua DPR AS Nancy Pelosi ke Taiwan bisa "membakar" kawasan dan hubungan China-Rusia. 

TRIBUNJOGJA.COM, BEIJING – China menggelar latihan besar perang-perangan lanjutan di dekat Taiwan, menyusul kunjungan sejumlah politisi AS ke pulau tersebut.

Komando Timur Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) mengumumkan, latihan perang akan melibatkan semua unsur militer  darat, laut dan udara. Latihan digelar hari ini, Selasa (16/8/2022).

Kolonel Senior Shi Yi, juru bicara Komando Teater Timur PLA menegaskan, latihan militer itu menjawab "trik politik" AS dan pihak berwenang di Taiwan.

Shi menambahkan, Komando Teater Timur PLA di Nanjing telah mengorganisir patroli keamanan kesiapan tempur bersama dan latihan tempur yang melibatkan pasukan dari berbagai layanan.

Baca juga: Analis China Anggap Washington Salah Kalkulasi Terkait Konflik China Taiwan

Baca juga: China Petik Manfaat Geopolitik Kunjungan Nancy Pelosi ke Taiwan

Baca juga: Komando Strategis AS Atur Strategi Baru Hadapi Ancaman Nuklir Rusia dan China

Tidak ada rincian lebih lanjut yang diberikan tentang latihan tersebut. Awal bulan ini, China juga melakukan Latihan militer besar bersamaan kunjungan Ketua DPR AS Nancy Pelosi ke Taipei.

China menganggap Taiwan sebagai provinsi China yang memberontak dan melihat dukungan apa pun untuk pemerintah di sana sebagai campur tangan dalam urusan internal China.

Pemerintah di Taiwan pernah menjadi pemerintah republik seluruh Tiongkok, tetapi kalah perang saudara pada tahun 1949 ketika Republik Rakyat Tiongkok yang sosialis didirikan di daratan.

Sejak itu, pasukan di Taiwan telah mempertahankan otonomi mereka dari Beijing hanya berkat dukungan AS.

Washington mengalihkan pengakuannya terhadap pemerintah Cina yang sah dari Taipei ke Beijing pada 1979, tapi mempertahankan kerjasamanya dengan Taipei.

Ketika Pelosi berada di Taiwan, dia menyatakan solidaritas Washington dengan Taipei dan berjanji AS akan tidak meninggalkan Taiwan pada apa yang dia sebut otoritarianisme China.

Senator AS Ed Markey (D-CA) dan empat orang lainnya yang tiba di Taiwan pada Minggu telah membuat pernyataan serupa.

Mereka menyatakan, kunjungan delegasi itu dimaksudkan untuk mengirim pesan ke China juga.

“Konsisten dengan komitmen kami di bawah Undang-Undang Hubungan Taiwan, Amerika Serikat harus terus mendukung partisipasi Taiwan yang berarti dalam komunitas internasional dan membantu Taiwan menahan paksaan lintas Selat,” kata Markey.

“Kita harus terus bekerja sama untuk menghindari konflik dan salah perhitungan di Selat Taiwan,” katanya.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved