Mutiara Ramadhan Tribun Jogja LDNU DIY

Membumikan Alquran

Ramadan merupakan bulan penuh berkah, dimana semua perbuatan baik yang dilakukan umat Islam akan dilipatgandakan pahalanya.

Editor: ribut raharjo
Membumikan Alquran
Istimewa
Aris Risdiana Ekasasmita, LD PWNU Daerah Istimewa Yogyakarta dan Dosen UIN Sunan Kalijaga

Oleh: Aris Risdiana Ekasasmita, LD PWNU Daerah Istimewa Yogyakarta dan Dosen UIN Sunan Kalijaga


TRIBUNJOGJA.COM - “Bulan Ramadan yang di dalamnya –mulai- diturunkannya Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan keterangan-keterangan yang nyata yang menunjuk kepada kebenaran, yang membedakan antara yang haq dan yang bathil.” (QS Al-Baqarah: 185)

Ramadan merupakan bulan penuh berkah, dimana semua perbuatan baik yang dilakukan umat Islam akan dilipatgandakan pahalanya.

Kesempatan tersebut membuat semua muslim di dunia berlomba-lomba untuk mengisi Ramadan dengan memperbanyak berbuat kebajikan. Salah satu tradisi di bulan Ramadan yang lekat terlihat di Indonesia adalahkegiatan tadarus Alquran baik secara berjemaah maupun individu.

Alquran merupakan mukjizat paling agung yang diturunkan Allah kepada kekasihnya Nabi Muhammad SAW, yang akan terus nampak hingga akhir zaman. Keberkahannya terus mengalir dan tak akan pernah terputus.

Sebuah kitab suci yang akan selalu membimbing seorang muslim menuju kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Orang yang menjadikannya imam, akan selamat dengan izin Allah, namun siapa yang tak menghiraukannya, maka cepat atau lambat kebinasaan akan menghampirinya.Merupakan ibadah bagi siapa pun yang membacanya. Alquran merupakan kitab yang komprehensif mengatur kehidupan manusia. Alquran merupakan petunjuk (hudan) bagi orang-orang yang beriman dan pembeda(furqān) antara yang benar (haq) dan yang salah (bātil) (Muhammad Chirzin).

Keberkahan Alquran nampak jelas dengan adanya riwayat-riwayat yang mengabarkan akan keutamaan dan keistimewaannya. Ia merupakan pedoman hidup seorang muslim, obat dari segala penyakit badan dan hati, dan banyak keistimewaan lainnya. Allah berfirman:

“Dan Kami turunkan Al-Quran (Sesuatu) yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman, sedangkan bagi orang-orang yang zhalim hanya akan menambah kerugian.” (QS Al-Isra’ : 82)

‘Abdullah bin Mas’ud RA, beliau menuturkan, Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang membaca satu huruf dari Kitab Allah (Al-Quran), maka baginya satu kebaikan. Satu kebaikan dilipatkan menjadi sepuluh. Aku tidak mengatakan alif lam mim satu huruf. Namun alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf.” (HR At-Tirmidzi)

Al-Qur’an memiliki fungsi utama yakni sebagai pedoman dalam kehidupan manusia. Salah satu hal yang paling pokok dari Al-Qur’an adalah menegaskan aspek ketauhidan. Tauhid merupakan ajaran Islam paling fundamental. Akidah tauhid diformulasikan dalam kalimat singkat, tetapi sangat luar biasa dampaknya, yaitu kalimat tahlil: la ilaha illa Allah (tiada Tuhan selain Allah). Kalimat ini secara mutlak menegasikan segala jenis Tuhan sekaligus menetapkan keesaan dan keagungan Allah SWT.

Kalimat tauhid merupakan kunci pembuka surga. Rasulullah SAW bersabda: ”Kunci surga adalah kesaksian bahwa tiada Tuhan selain Allah” (HR Ahmad). Disabdakan bahwa “Tiada seorang hamba yang menyatakan la ila illa Allah lalu meninggal dalam keadaan bertauhid, melainkan dia akan masuk surga” (HR Muslim). Keagungan kalimat tahlil tidak hanya terletak pada dampaknya yang luar biasa bagi mukmin, tetapi juga terlihat dalam struktur kalimatnya. Kalimat La ilaha illa Allah itu hanya terdiri atas tiga huruf: alif, lam, dan ha’. Bayangkan, tiga huruf dapat membentuk ajaran paling sentral dalam Islam.

Dengan demikian, kalimat tauhid merupakan kalimat yang agung. Konsekuensi yang dikandung oleh orang yang telah mengucapkan kalimat tauhid adalah hanya menyembah Allah SWT serta mematuhi syariat-Nya, mengimani dan meyakini bahwa syariat-Nya adalah benar. (*)

 

Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved