96 Geng Tumbuh dari Balik Tembok-tembok Sekolah di Yogyakarta
Kasus kekerasan yang melibatkan pelajar di berbagai wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memang bukan kasus
Penulis: Miftahul Huda | Editor: Iwan Al Khasni
Namun ada sedikit pandangan yang ia sampaikan terjadi pergeseran pola penyerangan dalam aktivitas geng pelajar di Yogyakarta.
"Diera angkatan 2017-2018 dulu itu gak kayak sekarang. Kalau dulu satu lawan satu. Antar geng juga. Kalau sekarang kan nyari lengahnya," katanya memulai obrolan, Selasa (12/4/2022).
Menurutnya aksi para geng pelajar sekarang pola serangannya justru massif kepada semua orang. "Kasarannya enggak salah dikenain di jalan itu ada. Sebenarnya gak bener. Jadi pola penyerangan beda," ujarnya.
Berbeda dengan era dirinya saat duduk dibangku SMA, yang setiap kali hendak beraksi selalu janjian dengan kelompok SMA lainnya.
Mereka akan menentukan tempat tawuran itu di mana, jumlah kendaraan berapa dan jumlah orang berapa.
Sebagai pengingat, apapun pola penyerangan para geng pelajar itu, tetap saja tindakan anarkis tidak dibenarkan dalam hukum negara ini.
"Dulu itu malah seringnya janjian. Jadi misal sama SMA A itu nanti janjian sama SMA B. Seringnya gitu. Gak pernah kalau nyari di jalan itu jarang," ujarnya.
Meski secara pola berbeda, akan tetapi diakuinya tujuan tindakan anarkis itu untuk mencari eksitensi.
"Kalau jaman dulu untuk sekolah A sama sekolah B nanti kan pasti ada salah satu yang tumbang. Nah, itu nanti dilihat orang, oh itu kemarin habis ini sama geng itu," katanya.
"Sekarang kan enggak. Orang gak ada masalah gak tahu di jalan dikenai. Aneh sekarang itu," imbuhnya.
Menurut R, dalam sebuah geng pelajar, peran senior ibarat pemegang kendali tertinggi dalam sebuah satuan.
Tugas senior di geng pelajar dieranya yakni membimbing, mengarahkan dan memberi semangat.
"Misal kalau kita mau janjian dengan sekolah B. Kita akan dirahkan, ini yang harus dibawa. Nanti jalannya lewat sini, rutenya lewat mana saja dijelaskan," ungkapnya.
Para anggota diwanti-wanti untuk tidak keluar rute, sebab begitu anggota geng salah rute maka bisa celaka.
"Dulu ada hitungannya. Kalau sampai salah rute dikit saja, harusnya lurus kok belok bisa fatal. Sekarang itu hitungannya kurang. Asal-asalan," ucap R.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/96-Geng-Tumbuh-DiBalik-Tembok-tombok-Sekolah-Daerah-Istimewa-Yogyakarta.jpg)