Membuka Kembali Memori Pernikahan Beda Agama di Masyarakat Multikultural

Masyarakat multikultural secara bahasa, golongan, budaya, ras, suku, agama, maupun keyakinan seperti Indonesia, pernikahan campur sulit dihindari

Membuka Kembali Memori Pernikahan Beda Agama di Masyarakat Multikultural
Ist
Lathifatul Izzah, Dosen Pendidikan Agama Islam Universitas Alma Ata, Yogyakarta

* Oleh: Lathifatul Izzah, Dosen Pendidikan Agama Islam Universitas Alma Ata Yogyakarta


PERNIKAHAN umumnya bertujuan untuk membentuk kehidupan keluarga yang lestari, bahagia, utuh, dan harmonis. Dengan sendirinya ikatan pernikahan memerlukan kesesuaian dari kedua pihak yang akan menyatu dalam sebuah unit terkecil dalam masyarakat. Tidak mengherankan jika kesamaan latar belakang kedua pihak dianggap penting.

Latar belakang dapat mencakup berbagai aspek dalam kehidupan manusia, misalnya etnis, sosial-ekonomi, pendidikan, ideologi, keyakinan, agama, dan mungkin masih banyak lagi aspek lain yang tergolong ke dalam dimensi horizontal dan vertikal masyarakat multikultural tersebut.

Masyarakat multikultural, baik secara bahasa, golongan, budaya, ras, suku, agama, maupun keyakinan seperti Indonesia, pernikahan campur sulit dihindari. Tetapi pernikahan dari pasangan yang berbeda suku, apalagi berbeda etnis atau ras masih menjadi pertimbangan bagi pihak keluarga yang bersangkutan, belum lagi berbeda kayakinan atau agama.

Bahkan pernikahan berbeda organisasi masyarakat, aliran atau mazhab keagamaan walaupun seagama masih diharapkan jangan sampai terjadi. Dalam masyarakat multikultural, pernikahan beda keyakinan biasanya terkait aspek kesakralan atau keabsahan hubungan suami-isteri dari sudut pandang agama.

Secara umum, tidak ada satu agamapun yang menganjurkan pernikahan beda keyakinan. Pernikahan beda keyakinan dipandang sebagai tindakan yang seharusnya tidak dilakukan oleh penganut keyakinan apapun.

Sekitar tahun 2000-an, pernikahan beda agama di Indonesia sempat menjadi perbincangan publik. Perbincangan tersebut ditandai dengan kehadiran buku Memoar Cintaku Pengalaman Empiris Pernikahan Beda Agama (Ahmad Nurcholish: 2004) dan buku hasil penelitian Siti Musda Mulia dkk, 2005, Pernikahan Beda Agama Kesaksian, Argumen Keagamaan dan Analisi Kebijakan.

Kemudian wacana tersebut meredup, tetapi akhir-akhir ini mencuat kembali dan viral di media sosial, bahkan ada netizen yang sempat menulis di akun twitternya: “boro-boro nikah beda agama. Nikah seagama saja aku mikir 11 kali”. 

Wacana tersebut diawali dengan unggahan foto akun facebook Ahmad Nurcholish (5/03/2022) prosesi pemberkatan pasangan pengantin ke-1.424 pria Katolik dan perempuan Islam di Gereja Semarang. Peristiwa tersebut memancing perhatian salah satu ketua Tanfidziyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ahmad Fahrurrazi yang melarang pernikahan perempuan muslim dengan lelaki non-muslim.

Beliau mengutip ayat al Qur’an surat Al Baqarah ayat 221 dan surat al Mumtahanah ayat 10. Selain beliau mengutip ayat, beliau juga mengutip UU No. 1 tahun 1974 pasal 44.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved