Citizen Journalism

Maksimalisasi Ibadah Kala Ramadan

Kategori puasa yang maksimal ketika hati ikut puasa, maka selama berpuasa akan selalu ingat kepada Allah SWT.

Tayang:
Editor: Sigit Widya
Dok IKADI
Dr Tulus Musthofa Lc MA. 

Dr Tulus Musthofa Lc MA

Ketua MUI DIY Bidang Dakwah

Dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

UMAT Islam di Indonesia patut bersyukur pada Ramadan kali ini setelah dua tahun tidak bisa menyelenggarakan salat isya dan tarawih berjemaah.

Ibadah Ramadan telah banyak dipelajari, termasuk puasa, dari berbagai sisi, tetapi justru yang paling penting adalah bagaimana kita bisa memaksimalkan anugerah yang telah diberikan oleh Allah SWT.

Lantas, kenapa kita harus maksimal? Banyak literatur yang memberi informasi bahwa sebagai manusia kita hidup banyak yang merugi.

Seperti dalam QS Al 'Ashr bahwa demi masa sesungguhnya manusia itu merugi, kecuali yang beriman dan seterusnya.

Artinya, secara umum, manusia itu merugi, sedangkan 'kecuali' mempunyai konotasi selalu sedikit.

Rasulullah SAW juga memberi gambaran kepada kita dari sekian banyak manusia yang merugi, ada yang sangat rugi, yakni yang tidak pandai menggunakan nikmat kesehatan dan kesempatan.

Bahkan, dalam QS Al Ma'uun juga ditegaskan, orang yang salat bisa celaka.

Dulu, pada jaman PKI, penggalan surat tersebut sering digunakan untuk bahan ceramah.

Orang PKI menggunakan bahasa Alquran agar jangan salat karena bisa celaka.

Namun, cara mengambil dalilnya tidak tepat karena masih ada terusannya bahwa yang celaka karena menyia-nyiakan salat, tidak tepat waktu, dan seterusnya.

Orang yang berwudu pun bisa celaka.

Dalam hadits disebutkan, celaka bagi orang yang berwudu, yaitu kaki atau tumitnya tidak basah.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved