Sineas Yogyakarta "Pehagengsi" Rilis Dua Film Pendek "YK48" dan "PDKT 6 Minggu"

Sineas Yogyakarta yang tergabung dalam "Pehagengsi" berupaya mengakhiri diskriminatif terhadap film pendek, yang dikepung banyak stereotip menyebalkan

Dok Pehagengsi
Syukuran Pehagengsi atas terselesainya penggarapan dua film pendek berjudul "YK48" dan "PDKT 6 Minggu" di Kota Yogyakarta, beberapa waktu lalu 

TRIBUNJOGJA.COM - Sineas Yogyakarta yang tergabung dalam "Pehagengsi" berupaya mengakhiri diskriminatif terhadap film pendek, yang dikepung banyak stereotip menyebalkan.

Ada tuduhan, dari yang bisa diperdebatkan macam miskin konten dan konteks karena disandera waktu sampai tuduhan bombastis yakni sebagai alat propaganda. Film pendek masih jadi anak tiri di tengah rimba perfilman.

Kemuakkan itu memicu Pehagengsi gila produksi selama satu tahun terakhir. Dua film pendek selesai lalu akan dirilis dalam event bertajuk "Pehagengster" di Bioskop Sonobudoyo, Kota Yogyakarta, Rabu (30/3/2022) pukul 11.00- 18.00 WIB, dilanjutkan diskusi bersama di 0 Km Coffee & Tea pada pukul 19.00 WIB.

Baca juga: Pemkot Yogyakarta Izinkan PTM 100 Persen, Belum Semua Sekolah Menerapkannya

"Pemilihan nama itu setengah filosofis setengah asal-asalan. Kami ingin jadi gengster yang mengancam keteraturan para sineas, institusi, lembaga, atau pegiat kolot yang mendiskriminasi film pendek itu," ujar Rifqi Mansur Maya, pemimpin Pehagengsi.

Dua film yang telah selesai itu itu tidak hanya diputar, didiskusikan, dan dirayakan di Yogyakarta saja. Sebab, Pehagengsi juga mendistribusikannya bersama komunitas/penggiat film se-Indonesia.

"Bisa dibilang inilah upaya untuk mendemokratisasikan informasi atau pengetahuan dalam bentuk film pendek yang dirasa mulai terlalu eksklusif, hanya dimiliki beberapa orang atau kelompok. Semoga usaha kecil ini bisa menumbuhkan semangat dari teman-teman kita yang pusat dan dapat meminimalisir tindak pembajakan," kata Rifqi.

Adapun dua film yang akan didistribusikan adalah "YK 48" dan "PDKT 6 MINGGU". Film "YK 48" adalah mini dokumenter tentang selayang pandang sejarah perfilman di Yogyakarta (Indonesia).

Dokumenter sejarah 48 menit ini lahir setelah Pehagengsi bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) melalui program
pendanaan film pendek.

Penonton diajak menyusuri kronik, dari 1948 sejak pertama kali didirikan sekolah film pertama di Indonesia, Kine Drama Institut di Yogyakarta hingga geliat komunitas, festival, produksi sampai boom film Tilik yang menggugah awam.

Film "YK48" disutradarai Riezky Andhika Pradana. Bermoniker Kiki Pea, sutradara "YK48' ini seniman serba bisa. Selain sudah memproduksi banyak film keren, Kiki juga juga seorang musisi, penulis, dan jurnalis.

Sedangkan untuk tim riset dimotori Umi Lestari yang di tengah perjalanannya menyerahkan dinamo mesin ke Manshur Zikri. Pemilihan sutradara dan tim riset, lanjut Rifqi, yang menggagas sekaligus memproduseri film ini adalah usaha Pehagengsi mempertemukan lintas disiplin dalam proses produksi.

"Karena visi Pehagengsi adalah produksi pengetahuan, saya pikir sangat strategis pada prosedengan mereka. Kiki Pea adalah jumnalis dan Umi & Zikri adalah peneliti film yang masing-masing dari mereka sudah sangat suntuk di medan kebudayaan lokal & nasional," sambung Rifqi.

Film "YK48" juga dipersenjatai musik latar yang bakal membakar kuping para hipokrit. Judulnya "Aku Sinema?", Narasi yang disusun Kiki Pea serupa timah panas.

Tiap lariknya akan meninggalkan luka bakar dalam waktu lama jika benih-benih hipokrit tumbuh dalam pendengar, terutama mereka yang haus pujian usai mematikan kamera.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved