Harga Jagung Tinggi, Peternak Ayam Petelur Minta Pemerintah Data Pelaku Usaha Peternakan

Asosiasi peternak ayam petelur meminta pemerintah untuk melakukan pendataan pelaku usaha peternakan. Hal itu diungkapkan oleh Ketua Umum Presidium

Penulis: Ardhike Indah | Editor: Kurniatul Hidayah
istimewa
Rembuk nasional ‘Revitalisasi Peternakan Rakyat Ayam Petelur untuk Mendukung Ketahanan Pangan Nasional’ di Fakultas Peternakan, Universitas Gadjah Mada (UGM), Kamis (24/3/2022) 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Ardhike Indah

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Asosiasi peternak ayam petelur meminta pemerintah untuk melakukan pendataan pelaku usaha peternakan.

Hal itu diungkapkan oleh Ketua Umum Presidium Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar) Petelur Nasional (PPN), Yudianto Yosgiarso, Kamis (24/3/2022) sore.

Yudianto mengatakan hal itu dalam rembuk nasional asosiasi peternak ayam petelur bertema ‘Revitalisasi Peternakan Rakyat Ayan Petelur untuk Mendukung Ketahanan Pangan Nasional’ di Fakultas Peternakan, Universitas Gadjah Mada ( UGM ).

“Kami memiliki setidaknya 14 rekomendasi untuk pemerintah terkait keadaan kami dan ini sudah disampaikan melalui rembuk ini,” katanya usai agenda rembuk nasional.

Baca juga: Booster Jadi Syarat Mudik, Minat Warga DI Yogyakarta untuk Vaksinasi Booster Masih Rendah

Ia menjelaskan, dari 14 rekomendasi itu, salah satunya adalah pendataan bagi semua pelaku usaha peternakan dan populasinya, baik di hulu maupun hilir, serta bantuan proses perizinan.

Menurutnya, pendataan adalah kunci dari semua pengambilan keputusan.

“Dari pendataan, nanti akan ada pemetaan daerah dan terlihat, mana daerah yang surplus dan minus produksi telur. Jangan sampai, daerah surplus, seperti di Jawa ini, diberikan lagi izin peternakan dalam skala besar, sehingga semua penjualannya tersentral di Jawa,” paparnya.

Menurutnya, lebih baik, perizinan peternakan skala besar diberikan pada daerah yang masih minus dalam memproduksi telur.

Efek buruknya, jika ini tidak dilakukan, maka persaingan pada sentra penjualan, terutama di Jakarta dan Bandung menjadi kurang sehat.

Selain meminta pendataan, pihaknya juga berharap pemerintah bisa memberi prioritas dan mengkoordinasikan koperasi peternak layer untuk bekerja sama dengan gabungan kelompok tani (gapoktan) guna menjamin ketersediaan jagung.

Ia tidak menampik, peternakan ayam petelur sebagai salah satu penyedia sumber pangan protein hewani saat ini dihadapkan pada berbagai permasalahan. 

Selain fluktuasi harga, ketersediaan bahan baku produksi terutama jagung, hingga ketidakpastian pasar mengancam eksistensi peternak.

"Kondisi ini berbanding terbalik dengan harga telur. Saat harga pakan naik, harga jual telur justru anjlok. Bahkan, pada September 2021 titik harga terendah mencapai Rp13.500 perkilo," lanjutnya.

Dikatakannya, harga jagung naik turun sejak tahun 2015 hingga 2022 ini. 

Halaman
12
Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved