Bupati Abdul Halim Muslih
Warga Gelar Upacara Wiwitan, Bupati Bantul: Ekspresi Budaya Religius Masyarakat
Bupati Bantul Abdul Halim Muslih mengapresiasi kerja keras, semangat, dan kekompakan masyarakat di Kalurahan Caturharjo, Kabupaten Bantul, dalam....
Penulis: Yakob Arfin Tyas Sasongko | Editor: Wandha Nur Hidayat
TRIBUNJOGJA.COM- Bupati Bantul Abdul Halim Muslih mengapresiasi kerja keras, semangat, dan kekompakan masyarakat di Kalurahan Caturharjo, Kabupaten Bantul, dalam menjalankan pertanian hingga dapat melaksanakan upacara wiwitan.
Adapun upacara wiwitan tersebut digelar Badan Usaha Milik Kalurahan (BUMKal) Catur Sejahtera Kalurahan Caturharjo, Kapanewon Pandak bersama kelompok sadar wisata (Pokdarwis) di Gluntung Lor Caturharjo, Kecamatan Pandak, Kabupaten Bantul, Sabtu (12/3/2022).
"Wiwitan adalah ekspresi budaya Indonesia, terutama Jawa. Ekspresi budaya ini sangat positif. Masyarakat Bantul yang memiliki budaya religius menggantungkan hidupnya kepada Tuhan Yang Maha Esa," ujar Abdul Halim dalam siaran pers yang diterima Tribunjogja.com, Sabtu.
Pada kesempatan tersebut, Abdul Halim juga mengajak masyarakat untuk berperan aktif dalam meningkatkan kesejahteraan di level desa.
Baca juga: Bupati Abdul Halim Beri Motivasi Peserta Dikmapa PSDP Penerbang TNI
Ia menilai, pemerintah kabupaten (pemkab) sebagai pemegang kekuasaan di daerah tak dapat bekerja optimal tanpa partisipasi masyarakat.
“Pemkab Bantul berupaya menyejahterakan masyarakat melalui berbagai program di berbagai sektor, mulai dari pertanian, pariwisata, hingga kebudayaan,” terangnya.
Untuk diketahui, Abdul Halim Muslih menghadiri upacara wiwitan tersebut dengan didampingi sejumlah pimpinan instansi.
Instansi tersebut antara lain Dinas Kebudayaan, Dinas Pariwisata, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian, Dinas Lingkungan Hidup, serta Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Bantul.
Sementara itu, pada kesempatan sama, Lurah Caturharjo Wasdiyanto mengatakan, saat ini, petani masih menggunakan pompa air dalam menjalankan aktivitas pertanian. Pasalnya, sawah di desa tersebut belum memiliki sistem pengairan yang baik.
“Kami berharap, sistem pengairan pada sawah di Desa Caturharjo dapat ditingkatkan. Dengan begitu, produktivitas petani ikut meningkat,” kata Wasdiyanto.
Baca juga: Pemkab Bantul Jadi Daerah Pertama di Indonesia dalam Deklarasi Tim Percepatan Penurunan Stunting
Sebagai informasi, Wiwitan adalah ritual persembahan tradisional masyarakat Jawa sebelum panen padi dilakukan. Ritual itu dilakukan sebagai wujud terima kasih dan rasa syukur kepada Tuhan YME yang telah menumbuhkan padi sebelum panen.
Disebut sebagai ‘wiwitan’ karena arti ‘wiwit’ adalah ‘mulai’, memotong padi sebelum panen diselenggarakan. Bumi bagi orang Jawa dianggap sebagai saudara manusia yang harus dihormati dan dijaga dilestarikannya untuk kehidupan.
Proses wiwitan dilakukan di sawah dan dipimpin oleh mbah kaum atau orang yang tertua di kampung halamannya. Mbah kaum memulai prosesi dengan berdoa, lalu dilanjutkan memotong sebagian padi sebagai tanda padi sudah siap dipanen.
Makanan yang disajikanpun merupakan makanan tradisional yaitu nasi gurih, ayam kampung, sayur nangka, krupuk, tahu tempe, teri, peyek serta jajan kecil, telur, dan biasanya dibungkus dengan daun pisang atau daun jati.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Bupati-Bantul-Abdul-Halim-Muslih-saat-menghadiri.jpg)