Berita Gunungkidul Hari Ini

Ibu Rumah Tangga Gunungkidul Soal Minyak Goreng Langka: Lebih Baik Mahal Tapi Ada Barangnya

Minimnya stok minyak goreng kemasan membuat ibu rumah tangga Gunungkidul pusing tujuh keliling. Pasalnya, minyak goreng seakan sudah menjadi kebutuhan

Penulis: Alexander Aprita | Editor: Kurniatul Hidayah
via setkab.go.id
ILUSTRASI minyak goreng 

TRIBUNJOGJA.COM, GUNUNGKIDUL - Minimnya stok minyak goreng kemasan membuat ibu rumah tangga Gunungkidul pusing tujuh keliling.

Pasalnya, minyak goreng seakan sudah menjadi kebutuhan primer sehari-hari, terutama untuk memasak.

Ulfa, salah satu ibu rumah tangga asal Kapanewon Playen, sampai harus membeli minyak goreng kemasan secara daring atau online.

"Saya sampai harus beli online saking barangnya sulit dicari di pasaran," tuturnya pada Senin (21/02/2022).

Baca juga: Waspada Penyakit Antraks, DPP Kulon Progo Ambil 9 Sampel di Pasar Tradisional

Ulfa mengaku pusing lantaran minyak goreng sangat dibutuhkan untuk urusan dapur.

Menurutnya, setidaknya dibutuhkan 3 liter minyak goreng untuk keperluan memasak sehari-hari.

Sedangkan saat ini, ia mengatakan untuk mendapatkan seliter minyak goreng kemasan pun sudah sangat sulit.

Sebab persediaan di pedagang sedikit, sementara yang ingin membeli juga banyak.

"Saya mumet jadinya sekarang kalau hanya sekedar menggoreng telur buat anak," keluh Ulfa.

Ia menilai langkanya minyak goreng kemasan di pasaran disebabkan oleh kebijakan satu harga oleh pemerintah pusat.

Adapun kebijakannya, minyak goreng kemasan premium wajib dikenai harga Rp 14 ribu per liter.

Ulfa pun tak mempermasalahkan jika harga minyak goreng tinggi tanpa harus ada intervensi pemerintah. S

ebab meski tinggi, pembelian tidak dibatasi dan persediaan tetap ada.

"Lebih baik harganya mahal tapi barangnya ada, ketimbang murah tapi sulit," kata ibu satu anak ini.

Baca juga: Jeritan Pedagang Terminal Klaten: Dulu Dapat Rp 2 Juta Per Bulan, sekarang Rp 500 Ribu Saja Susah

Kepala Seksi Distribusi, Bidang Perdagangan, Dinas Perdagangan Gunungkidul, Sigit Haryanto mengakui jika persediaan minyak goreng kemasan saat ini terbatas.

Kondisi ini dialami mulai dari swalayan hingga distributor lokal.

Ia menilai, langkanya stok ini lantaran produsen dan distributor tak ingin merugi.

Sebab harga migor kemasan sebenarnya sedang tinggi, sedangkan pusat meminta kebijakan satu harga.

"Bisa dibilang sebenarnya produsen dan distributor terpaksa mengikuti kebijakan tersebut," ujar Sigit. (alx)

Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved