Pakar UGM Jelaskan Alasan Kenapa BOR RS Rendah Saat Kasus Covid-19 di DIY Melonjak

Ketua Kelompok Kerja (Pokja) Genetik, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK) Universitas Gadjah Mada (UGM)

Penulis: Ardhike Indah | Editor: Kurniatul Hidayah
dok. tribunnews
Ilustrasi Varian Omicron 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Ketua Kelompok Kerja (Pokja) Genetik, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK) Universitas Gadjah Mada ( UGM ), dr Gunadi SpBA PhD menjelaskan ada hipotesa yang muncul mengapa Bed Occupancy Rate ( BOR ) Rumah Sakit (RS) cukup rendah di tengah kasus Covid-19 yang melonjak di DI Yogyakarta.

“Salah satu hipotesanya ya demikian. BOR RS rendah karena ada imbauan pasien gejala ringan ke isolasi terpadu ( Isoter ) atau isolasi mandiri ( isoman ) saja,” ucapnya kepada Tribun Jogja.

Diketahui, pemerintah telah mengimbau bagi pasien Covid-19 dengan gejala ringan, sebaiknya bisa melakukan isoman ataupun pergi ke tempat Isoter .

Baca juga: Tren Kasus Covid-19 di DI Yogyakarta: BOR RS Relatif Kosong, Pasien Positif Banyak ke Isoter

Sehingga, RS hanya untuk pasien positif Covid-19 yang memiliki gejala sedang hingga berat.

“Meski saat ini okupansi bed di RS masih belum penuh seperti dulu, tapi sebaiknya kita tidak menyepelekan Covid-19. Omicron ini gejalanya ringan, memang, tapi tidak bisa diartikan jinak,” jelasnya.

Menurutnya, Omicron juga bisa menjadi ganas apabila menjangkiti manusia yang memiliki komorbid.

“Sekali lagi, ini penting sekali disampaikan kepada masyarakat ya. Gejala pada umumnya tidak berat, tapi bukan berarti dia itu jinak,” ucap Gunadi.

Ia meminta, jangan sampai karena ada anggapan gejala Omicron lebih jinak, maka penyakit ini bisa diabaikan. Belum lagi, masih ada varian-varian sebelumnya yang menyebar di masyarakat.

“Transmisinya Omicron ini kan dikatakan 70 kali lebih cepat dari Delta, bisa saja mengenai orang yang rentan di sekitar kita. Kerentanan itu yang kemudian menjadi berat,” tegasnya.

Baca juga: Sembilan Akses Jalan Tertutup Pohon Tumbang, 21 Rumah Rusak Diterpa Hujan Angin di Bantul 

Menurutnya, tidak hanya warga berusia lanjut yang harus dilindungi, populasi yang belum divaksin karena alasan kesehatan juga wajib diberi proteksi, termasuk anak usia lima tahun.

Sebab, hingga kini, Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO belum memberikan izin untuk vaksinasi anak usia 5 tahun ke bawah. (Ard)

Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved