DI Yogyakarta Hadapi PPKM Level 3, Pakar UGM: Memang Perlu Adanya Pembatasan Aktivitas

Ketua Kelompok Kerja (Pokja) Genetik, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK) Universitas Gadjah Mada (UGM), dr Gunadi

Penulis: Ardhike Indah | Editor: Kurniatul Hidayah
dok. tribunnews
Ilustrasi Varian Omicron 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Ardhike Indah

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Ketua Kelompok Kerja (Pokja) Genetik, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK) Universitas Gadjah Mada (UGM), dr Gunadi SpBA PhD mengatakan di masa seperti ini memang perlu adanya pembatasan aktivitas.

“Dengan mempertimbangkan aspek kesehatan dan aspek lain, perlu kiranya pemerintah mengambil langkah kebijakan sama seperti di saat menghadapi varian delta,” ungkapnya, Rabu (9/2/2022).

Harapannya, aktivitas masyarakat betul-betul dibatasi agar varian Omicron tidak menyebar cepat.

Baca juga: Para Milenial di Jabung Klaten Tertantang Kembangkan Sektor Pertanian, Ini Usahanya

“Stop aktivitas beberapa minggu. Memang tidak langsung kelihatan, tetapi setelah beberapa bulan terlihat turun, dan itu perlu dilakukan kembali," papar Gunadi.

Dengan begitu, adanya PPKM Level 3 di DI Yogyakarta bisa dijadikan pedoman pemerintah daerah (pemda) agar bisa melakukan pembatasan aktivitas masyarakat dengan panduan yang jelas.

Kebijakan pembatasan sewaktu menghadapi gelombang varian delta bisa dijadikan pertimbangan untuk pengendalian tingginya penularan varian Omicron saat ini.

Lebih lanjut, Gunadi mengingatkan, gejala varian Omicron memang lebih ringan dari delta. Hospitalisasinya pun tidak setinggi waktu varian Delta mengancam.

Akan tetapi, hal tersebut tidak bisa dijadikan alasan pemerintah dan masyarakat abai.

Baca juga: Seorang Pemuda Pengangguran di Sleman Paksa 4 Siswi SMP Lakukan Video Call Mesum 

Menurutnya, Indonedia bisa belajar dari data yang terjadi di Amerika Serikat saat ini. Data di AS memperlihatkan hospitalisasi kasus Covid-19 varian Omicron jauh lebih tinggi dibanding varian delta.

”Di AS seperti itu, bagaimana dengan Indonesia? Sampai saat ini hospitalisasinya memang belum tinggi tapi jangan abai karena pengalaman beberapa negara termasuk Australia dan beberapa negara maju lainnya ternyata sudah terdampak dengan Omicron, padahal sistem kesehatan mereka jauh lebih siap dibanding kita," katanya.

Ia berharap, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI tidak mengendorkan kesiapan menghadapi badai varian baru.

“Setidaknya kementerian kesehatan memang sudah menganjurkan untuk yang ringan atau tidak bergejala (OTG) sebaiknya diisolasi terpusat atau isolasi mandiri sehingga rumah sakit fokus untuk mereka yang kritis atau berat," imbuhnya. (Ard)

Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved