Berita Klaten Hari Ini

Para Milenial di Jabung Klaten Tertantang Kembangkan Sektor Pertanian, Ini Usahanya

Dunia pertanian kini tidak hanya identik dengan kalangan orang tua, para anak muda juga mulai ramai terjun ke dunia pertanian.

Penulis: Almurfi Syofyan | Editor: Kurniatul Hidayah
TRIBUNJOGJA.COM/ Almurfi Syofyan
Petani milenial saat mengecek tanaman cabai yang ada di lahan pertanian di Desa Jabung, Kecamatan Gantiwarno, Kabupaten Klaten, Selasa (9/2/2022). 

TRIBUNJOGJA.COM, KLATEN - Dunia pertanian kini tidak hanya identik dengan kalangan orang tua, para anak muda juga mulai ramai terjun ke dunia pertanian.

Seperti yang dilakukan oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Jabung Makmur yang berada di Desa Jabung, Kecamatan Gantiwarno, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.

Satu dari beberapa unit usaha BUMDes tersebut yakni mengembangkan potensi pertanian yang ada di desa setempat.

Baca juga: Seorang Pemuda Pengangguran di Sleman Paksa 4 Siswi SMP Lakukan Video Call Mesum 

Namun, dalam mengembangkan pertanian itu, BUMDes tersebut menggandeng para Milenial untuk terjun langsung menjadi petani.

Direktur BUMDes Jabung Makmur, Hendri Aryo Nugroho mengatakan sebelum pihaknya menggandeng para Milenial untuk menjadi petani pihaknya terlebih dahulu melakukan pemetaan terkait potensi usaha yang bisa dikembangkan oleh Desa Jabung itu.

"Jadi awalnya kita mapping dulu soal potensi desa yang besar ada di mana. Setelah adanya pemetaan ternyata di Desa Jabung itu potensi kita ada di lahan pertanian," ujar Hendri pada wartawan, Selasa (8/2/2022).

Menurutnya, pihaknya sengaja melibatkan para Milenial untuk mau bertani karena dulunya banyak para Milenial Desa Jabung yang memilih untuk mencari kerja di luar desa. Rata-rata, para milenial itu bekerja sebagai karyawan pabrik baik di Klaten atau di luar Klaten.

"Maka dari itu kita punya potensi lahan dan adanya anak muda yang banyak, kita coba libatkan mereka agar sektor pertanian di desa Jabung bisa makin berkembang," ulasnya.

Diakui Hendri, pihaknya baru memulai mengembangkan pertanian di desa itu dengan melibatkan Milenial sejak Oktober 2021. Sebelumnya, lahan yang di garap oleh petani Milenial di desa itu merupakan lahan tebu yang disewakan sejak 25 tahun yang lalu.

"Nah hasil sewa itu tidak bisa memenuhi kebutuhan desa untuk tahun kemarin, makanya kita berusaha cari potensi baru untuk penuhi kebutuhan desa," ucapnya.

Kemudian, dipaparkan Hendri, kondisi lahan pertanian bekas lahan tebu yang dia olah tersebut cukup mengkhawatirkan, oleh karena itu pihanya merasa tertantang bersama para petani Milenial di desanya untuk menggarap lahan itu menjadi tanah pertanian yang produktif.

"Ketika ini berhasil saya yakin masyarakat akan banyak yang terjun ke dunia pertanian lagi. Termasuk milenial. Untuk awal ini kota tanam cabai yang mana harganya cukup bagus," jelasnya.

Untuk 4 bulan ini, kata Hendri pihaknya sudah beberapa kali panen cabai namun hasilnya belum terlalu banyak meski begitu ia optimis pertanian yang dikelola Milenial itu akan sukses ke depannya.

"Untuk cabai yang baru kita kelola seluas 1 hektare, kalau luas tanah yang akan dikembang khusus cabai 2,5 hektare," imbuhnya.

Baca juga: Jadwal dan Lokasi Pemadaman Listrik di DI Yogyakarta Hari Ini, Rabu 9 Februari 2022

Selain cabai, kata dia, petani milenial di desa itu juga menggarap rumput pakchong sekitar 1,7 hektare untuk dikembangkan menjual bibitnya.

Sementara itu, seorang petani milenial, Hariyanto (27) mengatakan jika dirinya merasa tertantang untuk menjadi petani di usia muda karena ingin membantu pengembangan pertanian di desanya.

"Saya dulu sudah kerja 3 tahun di spare part motor di Jakarta dan percetakan di Klaten selama setahun, trus di ajak gabung kembangkan ini ya saya merasa tertantang. Apalagi kalau dari segi hasil, uangnya juga lumayan," imbuhnya. (Mur)

Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved