Tak Ada Penyekatan Saat Nataru, Epidemiolog UGM: Manfaatkan PeduliLindungi Cek Vaksinasi Covid-19

Dinas Perhubungan Kabupaten Sleman memastikan tidak ada cek poin dan penyekatan seperti tahun lalu di masa Natal 2021 dan Tahun Baru 2022.

Penulis: Ardhike Indah | Editor: Kurniatul Hidayah
dok.istimewa
Ilustrasi Covid-19 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Ardhike Indah

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Dinas Perhubungan Kabupaten Sleman memastikan tidak ada cek poin dan penyekatan seperti tahun lalu di masa Natal 2021 dan Tahun Baru 2022.

Akan tetapi, Dishub akan melakukan pemeriksaan kelengkapan dokumen vaksin, seperti PeduliLindungi dan tes acak antigen bagi pelaku perjalanan yang melintas di wilayah perbatasan.

Pakar Epidemiologi Universitas Gadjah Mada (UGM), dr Bayu Satria Wiratama MPH mengatakan, kebijakan perketat pelaku perjalanan dengan menunjukkan vaksinasi Covid-19 lengkap adalah langkah yang bagus.

“Hal ini sangat bagus, untuk membatasi mobilitas mereka yang belum mendapatkan vaksin,” katanya, Sabtu (11/12/2021).

Dia menjelaskan, orang yang belum divaksin memiliki risiko lebih tinggi untuk tertular dan menjadi sakit dibandingkan dengan mereka yang sudah disuntik vaksin.

Baca juga: Sebanyak 46 Penyandang Disabilitas dari BRTPD Dinsos DIY Siap Berkarya di Tengah Masyarakat

Aturan perjalanan internasional, kata dia, juga perlu diperketat sehingga mengurangi kemungkinan terjadinya penularan karena kasus impor.

“Aturan perjalanan dengan memanfaatkan aplikasi PeduliLindungi itu juga harus lebih ketat dan konsisten ya, itu tidak kalah pentingnya,” bebernya.

Penggunaan aplikasi PeduliLindungi yang ketat, kata dia, perlu dibarengi dengan ketegasan pemerintah dalam meningkatkan kapasitas 3T atau testing, tracing dan treatment menjelang periode Nataru seperti ini.

Pasalnya, meski mobilitas berusaha dibatasi, namun jalur darat via kendaraan pribadi masih mempunyai kemungkinan lolos dari pengetatan. 

"Oleh sebab itu, program 3T tetap harus ditingkatkan terutama testing dan tracing diperkuat dengan menambah kapasitas khusus menjelang periode nataru, memastikan logistik di faskes mencukupi, aktivasi isoter dan RS lapangan serta memastikan nakesnya tersedia," terangnya.

Apabila dari segi pemerintah sudah memenuhi peningkatan 3T tadi, maka masyarakat harus tetap patuh terhadap 5M selama beraktivitas di periode Nataru.

Hanya dengan 5M, masyarakat bisa terhindar dari penyebaran Covid-19. Apalagi, jika ada kombo vaksinasi plus penerapan 5M yang patuh, setidaknya kasus Covid-19 tidak akan melonjak di periode seperti ini.

“Kalau saya sebenarnya memang menyayangkan pembatalan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 3 selama libur Nataru ya, tapi ya kebijakan perketat 3T dan mobilisasi, patuhi 5M dan percepat vaksinasi Covid-19, harus dilakukan agar kasus tidak naik,” tegasnya.

Ia tidak setuju jika vaksinasi dikatakan sudah mencapai target. Sebab, sampai saat ini, Indonesia belum memenuhi target WHO untuk mencapai vaksinasi Covid-19 sebesar 40 persen populasi. 

Baca juga: DLH Kota Yogyakarta Ajak Masyarakat Pilah Sampah B3

Saat ini, capaian vaksinasi Covid-19 di tanah air baru sekitar 37 persen populasi dengan kondisi yang belum merata. 

Misalnya, jumlah lansia masih kurang sekali dibandingkan dengan masyarakat umum dan pekerja.

“Kondisinya memang membaik tapi vaksinasi tetap harus dilakukan dan dipercepat. Masyarakat wajib patuhi 5M juga,” tandasnya. (ard)

Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    Berita Populer

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved