Breaking News:

Cegah Potensi Stunting di Masa Pandemi, Pemerintah Fokus Edukasi Kelompok Rentan 

Pandemi Covid-19 yang melanda hampir dua tahun terakhir, memunculkan deretan tantangan anyar, bagi pemerintah pusat. Satu di antaranya, penanggulangan

Penulis: Azka Ramadhan | Editor: Kurniatul Hidayah
Tangkapan Layar
Tangkapan layar dialog produktif yang digulirkan KPC-PEN, pada Selasa (30/11/2021) sore lalu. 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Pandemi Covid-19 yang melanda hampir dua tahun terakhir, memunculkan deretan tantangan anyar, bagi pemerintah pusat.

Satu di antaranya, penanggulangan stunting, atau pertumbuhan anak yang terhambat karena faktor kekurangan gizi. 

Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Kesehatan dan Pembangunan Kependudukan Kemenko PMK, Agus Suprapto menjelaskan, salah satu penyebab stunting adalah akses terhadap makanan bergizi, sanitasi, maupun air bersih, yang dialami keluarga berpenghasilan rendah, atau kehilangan pendapatan selama pandemi. 

Baca juga: Pemkot Yogyakarta Klaim Mayoritas PKL Malioboro Sepakat Direlokasi, Tinggal Menunggu Waktu 

"Penurunan stunting tentu bukan hanya menjadi tanggung jawab satu instansi, melainkan butuh kerja sama dari multi pihak, terlebih di tengah pandemi," terangnya, dalam Dialog Produktif KPC-PEN, Selasa (30/11/2021) sore. 

Ia pun tidak menampik, secara teoritis, pandemi dinilai cukup berpengaruh, pada peningkatan angka stunting di  Indonesia.

Pasalnya, jumlah keluarga berpenghasilan rendah, maupun tulang punggung yang harus kehilangan pekerjaan, otomatis meningkat sejak corona mewabah. 

Karena itu, untuk menyokong kesejahteraan masyarakat, dan memastikan ketersediaan pangan kelompok rentan secara penghasilan, Agus menjelaskan, bahwa di masa pandemi ini, pemerintah telah menyalurkan bantuan sosial, termasuk sembako bagi mereka yang membutuhkan. 

"Kita juga terus melakukan edukasi stunting, yang diharap tidak hanya fokus pada bayi dan anak, melainkan juga pada kelompok risiko, seperti remaja anemia, calon pengantin, pasangan usia subur, dan ibu hamil," ujarnya. 

Baca juga: Polres Magelang Tangkap Pelaku Kasus Pencurian 16 Buah Tabung Gas Oksigen di RSUD Muntilan

Hal tersebut, lanjut Agus, dikarenakan status gizi calon pengantin, maupun ibu hamil akan mempengaruhi bayi yang dilahirkan, sehingga harus diupayakan kesehatannya.

Menurutnya, pemerintah mematok target penurunan angka stunting hingga 14 persen pada 2024 mendatang. 

"Untuk mencapai target 14 persen, orientasi edukasi kita harus ke hulu lagi. Edukasi di bidang gizi selama ini sangat dipengaruhi kebudayaan setempat, sehingga memang dibutuhkan pendekatan khusus," pungkasnya. (aka)

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved