Malioboro Semakin Bergeliat, Wali Kota Yogyakarta Ingatkan Pedagang Jangan Aji Mumpung
Kawasan Malioboro, Kota Yogyakarta semakin menunjukkan geliatnya, seiring turunnya tingkat PPKM ke level dua beberapa waktu lalu. Pelonggaran yang
Penulis: Azka Ramadhan | Editor: Kurniatul Hidayah
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Kawasan Malioboro, Kota Yogyakarta semakin menunjukkan geliatnya, seiring turunnya tingkat PPKM ke level dua beberapa waktu lalu.
Pelonggaran yang diterapkan pemerintah pun membuat wisatawan semakin membanjiri pusat perekonomian kota pelajar itu.
Namun, Wali Kota Yogyakarta, Haryadi Suyuti, meminta supaya pedagang di kawasan Malioboro bisa menyikapinya secara bijak.
Baca juga: FSMR ISI Yogyakarta Gelar Pameran dan Penayangan Seni Media Rekam Jalan Menuju Media Kreatif
Dalam artian, para pelaku ekonomi tak lantas memanfaatkan situasi secara berlebihan. Meski ia dapat memahami, kondisi ini sudah lama dinanti-nanti.
"Kaitannya dengan tarif, atau harga di seputar Malioboro. Jangan ada yang aji mumpung, parkirnya berapa, rondenya dijual berapa," tegas Haryadi, Kamis (28/10/2021).
Dirinya mengungkapkan, jangan sampai insiden 'nuthuk' yang sempat viral tempo hari, terjadi kembali di kawasan Malioboro.
Menurutnya, hal-hal semacam itu jelas sangat mencoreng nama baik Yogyakarta, yang mengemban predikat daerah pariwista unggulan di Indonesia.
Baca juga: Berita Moto GP: Kejutan Marquez di MotoGP 2021, Quartararo & Bagnaia Patut Waswas di Grand Prix 2022
Oleh sebab itu, orang nomor satu di kota pelajar tersebut mendorong, adanya penyeragaman harga, untuk souvenir, maupun cinderamata, yang dijual di kawasan Malioboro. Sehingga, bisa muncul banderol baku, layaknya penjaja kuliner, yang diwajibkan mencantumkan harga.
"Yang jualan kaos, souvenir, dan segala macam itu, mbok ditarif, ben ora sah nyang-nyangan (biar tidak perlu tawar-menawar), kan nggak enak itu," ujarnya. (aka)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/berita-yogyakarta_20180911_145553.jpg)