Masih Suasana Pandemi Covid-19, Pelaksanaan Garebeg Maulid Keraton Yogyakarta Digelar Sederhana
Perayaan Hari Kelahiran Nabi Muhammad SAW kembali digelar di Keraton Yogyakarta tanpa arak-arakan gunungan dan prajurit.
Penulis: Ardhike Indah | Editor: Kurniatul Hidayah
Laporan Reporter Tribun Jogja, Ardhike Indah
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Perayaan Hari Kelahiran Nabi Muhammad SAW kembali digelar di Keraton Yogyakarta tanpa arak-arakan gunungan dan prajurit.
Perayaan dilakukan dengan membagi-bagikan ubarampe rengginang, Selasa (19/10/2021) atau 12 Mulud Alip 1995 di Bangsal Srimanganti, Keraton Yogyakarta.
Sebanyak 2.700 rengginang dibagikan ke tiga peruntukkan seperti halnya pelaksanaan Garebeg pada umumnya, yakni Abdi Dalem Keraton Yogyakarta, Pura Pakualaman dan Kompleks Kepatihan.
Selain ubarampe rengginang, keraton juga membagikan uang logam dan beras sebagai simbol dari udhik-udhik yang biasanya dibagikan saat pelaksanaan rangkaian perayaan Mulud.
Penghageng Kawedanan Hageng Panitrapura Keraton Yogyakarta, GKR Condrokirono, menuturkan bahwa pelaksanaan Hajad Dalem peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW kali ini masih mengedepankan protokol kesehatan.
Baca juga: Maulid Nabi Muhammad SAW, Jangan Lupa Sholat Dhuha sebagai Wasiat Baginda Rasulullah
“Hal ini dilakukan untuk menaati anjuran pemerintah sekaligus meminimalisir penyebaran Covid-19 di DIY. Oleh karenanya, pelaksanaan prosesi Garebeg disederhanakan dengan pembagian ubarampe saja. Hal ini sudah dilakukan sejak pelaksanaan Garebeg Sawal tahun 2020 lalu atau masa-masa awal pandemi Covid-19,” tuturnya, Selasa (19/10/2021).
Sementara itu, Gamelan Sekati yang biasanya dikeluarkan dari keraton dan ditempatkan di Pagongan Masjid Gedhe untuk dibunyikan selama satu minggu, saat ini tidak dilakukan.
“Miyos Gangsa (keluarnya Gamelan Sekati dari keraton ke pagongan) dan Kondur Gangsa (kembalinya Gamelan Sekati dari pagongan ke keraton) termasuk udhik-udhik, tidak dilakukan, sama seperti tahun lalu,” imbuh putri kedua Ngarsa Dalem ini.
Meski arak-arakan gunungan dan prajurit ditiadakan, lanjut GKR Condrokirono, esensi dari pelaksanaan Garebeg tidaklah hilang.
Yaitu, sebagai perwujudan rasa syukur dari raja atas melimpahnya hasil bumi yang dibagikan kepada rakyatnya.
Hal ini adalah bentuk konsistensi keraton dalam melestarikan budaya dalam berbagai situasi.
Sementara itu, segala kegiatan pementasan paket wisata di Keraton Yogyakarta juga masih diliburkan hingga waktu yang tidak dapat ditentukan.
Namun demikian, pada masa pandemi ini, Keraton Yogyakarta justru makin giat menghadirkan konten seputar keraton melalui media sosial dan YouTube Kraton Jogja yang dikelola Tepas Tandha Yekti.
Walaupun prosesi Miyos Gangsa dan Kondur Gangsa ditiadakan, Keraton Yogyakarta tetap berupaya untuk melakukan edukasi budaya dengan meluncurkan 11 video tutorial Macapat.