Harga Cabai Anjlok, Petani di Sleman Pilih Bagikan Hasil Panen Secara Gratis

Harga jual komoditas cabai rawit, maupun cabai merah di tingkat petani di Kabupaten Sleman sejak sebulan terakhir terus mengalami penurunan.

Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Kurniatul Hidayah
Istimewa
Cabai di Kalasan dibagi-bagikan secara gratis karena harganya sedang anjlok. 

Jumlah tersebut adalah honor yang dibayarkan. Belum termasuk biaya makan, snack dan rokok. Jika ditotal maka estimasi biaya yang harus dikeluarkan untuk satu tenaga adalah Rp 120 ribu per hari. 

Padahal, satu tenaga maksimal hanya mampu memetik cabai rawit 20 kg sehari.

Jika harga jual cabai Rp 5 ribu per kg, maka untuk membayar tenaga membutuhkan minimal 24 kilogram.

Tidak impas dengan cabai yang dihasilkan. Karenanya, Janu mengatakan sebagian tanaman cabai ada yang tidak dirawat dan sengaja dibiarkan mati. Ia sendiri mengorbankan sekitar 4 ribu meter lahan cabai yang dibiarkan mati. 

"Ini untuk mengurangi pembengkakan kerugian. Karena biaya perawatan, misalnya untuk penyemprotan hama kan mahal, sehingga tanaman sengaja dibiarkan mati. Diganti tanaman yang lain," terang dia. 

Lebih lanjut, Janu mengaku tidak mengetahui secara pasti penyebab harga cabai murah. Namun, rendahnya harga jual bumbu masak pedas ini sudah terjadi hampir dua bulan terakhir.

Tepatnya ketika Pemerintah menerapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) untuk memutus mata rantai penularan Covid-19.

Ia menilai, pembatasan yang dilakukan sejumlah daerah sangat berpengaruh terhadap harga cabai. Ia berharap PPKM dihentikan. 

"Harapan kami dari petani, setidaknya PPKM dihentikan. Karena ini menghancurkan ekonomi di masyarakat. Kalau PPKM dicabut, mudah-mudahan ekonomi kembali menggeliat," harapnya. 

Baca juga: Ada 400 Peserta dari 20 SMP dan SMA/SMK di Kulon Progo Ikuti Kegiatan Pajak Bertutur

Plt Kepala Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan (DPP) Sleman, Suparmono menilai harga cabai mengalami penurunan karena saat ini sedang memasuki masa panen raya.

Bukan hanya di Kabupaten Sleman melainkan di sentra cabai di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Siklus ini terjadi setiap tahun. Di mana saat diluar musim panen raya maka harga cabai meroket tinggi. Sebaliknya, saat panen raya maka harga tertekan. 

"Karena pasokan banyak dan permintaan sedikit," kata Suparmono.

Kapasitas produksi cabai di Kabupaten Sleman menurutnya mencapai 20 ton per hari.

Ini menjadi salah satu penyebab mengapa harga cabai terus tertekan.

Pihaknya mengaku terus berupaya membantu petani dengan mencari jalan keluar sesuai arahan dari Bupati Sleman.

Satu di antaranya, memberi pelatihan untuk mengolah atau mengawetkan cabai menjadi produk ekonomis saat produksi sedang melimpah. (rif)

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved