Pemkot Yogyakarta Berharap Wacana Penurunan Harga Swab PCR Tidak Membebani Daerah
Wali Kota Yogyakarta, Haryadi Suyuti menyebut wacana penurunan batas harga makimal swab PCR merupakan terobosan bagus.
Penulis: Azka Ramadhan | Editor: Kurniatul Hidayah
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Wali Kota Yogyakarta, Haryadi Suyuti menyebut wacana penurunan batas harga makimal swab PCR merupakan terobosan bagus.
Tapi, ia berharap, realisasinya nanti tidak membebani keuangan pemerintah daerah.
Pasalnya, sampai sejauh ini, dirinya belum mendapatkan penjelasan, terkait munculnya wacana tersebut.
Baca juga: HUT Ke-76 RI, Tak Ada Malam Tirakatan di Klaten, Pemkab: Berpotensi Timbulkan Kerumunan
Apa karena banderol yang ditetapkan selama ini terlampau mahal, atau akan ada skema subsidi untuk penyelenggara tes usap.
"Harapan kami, penurunan ini tidak membawa beban, atau konsekuensi terhadap pemerintah daerah, untuk mensubsidi penyelenggara swab PCR, atau antigen. Tapi, itu terobosan bagus, dan harus disikapi," cetusnya, Senin (16/8/2021).
Oleh sebab itu, pihaknya pun masih menanti perkembangan lebih lanjut dari pemerintah pusat terkait wacana tersebut.
Haryadi menuturkan, harus ada mekanisme pasti, supaya Pemkot bisa memberi penjelasan pada penyelenggara.
"Nah, kalau sekarang diturunkan, harus ada mekanismenya, itu nanti jadi beban siapa? Misal Yogya mau turun, oke, tapi apakah subsidinya dibebankan ke Pemkot," katanya.
Baca juga: Puskesmas di Klaten Ditarget Lakukan Vaksinasi COVID-19 Sebanyak 250 Dosis Setiap Hari
"Kemudian, kalau itu berasal dari margin yang masih cukup, ya silakan turun, karena kalau semakin banyak digunakan itu biasanya semakin turun harganya," imbuh Wali Kota.
Di samping itu, ia juga menyadari, wacana penurunan harga PCR yang menjadi syarat perjalanan antar daerah, jelas berpotensi meningkatkan angka wisatawan Yogyakarta. Namun, Haryadi mengaku tak mengkhawatirkannya.
"Kita tidak khawatir, yang penting warga sudah banyak yang divaksin. Kalau vaksin sudah banyak, risiko, atau akibat dari infeksi Covid-19 tidak terlalu berat," cetusnya. (aka)