Breaking News:

Tak Ada Penghasilan Selama PPKM, Pelaku Wisata Gunungkidul Harapkan Solusi Pemerintah

Hingga kini, aktivitas wisata di Kabupaten Gunungkidul ditutup bagi umum karena kebijakan PPKM Level 4. Penutupan tersebut praktis membuat pelaku

Penulis: Alexander Aprita | Editor: Kurniatul Hidayah
Istimewa
Gazebo di Pantai Drini, Kapanewon Tanjungsari, Gunungkidul yang kosong karena aktivitas wisata ditutup selama PPKM Darurat. 

TRIBUNJOGJA.COM, GUNUNGKIDUL - Hingga kini, aktivitas wisata di Kabupaten Gunungkidul ditutup bagi umum karena kebijakan PPKM Level 4.

Penutupan tersebut praktis membuat pelaku usaha wisata tak mendapat penghasilan sama sekali.

Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Pantai Baron, Awanto Subaryono mengaku ia dan rekan-rekannya kini kebingungan dengan situasi saat ini.

Baca juga: Pelanggaran Menurun Selama PPKM Level 4, Pelaku Usaha di Kota Yogyakarta Dinilai Sadar Prokes

"Selama sebulan sudah kami tidak ada penghasilan, sedangkan kami juga harus bertahan hidup," kata Awanto pada wartawan, Minggu (01/08/2021).

Menurutnya terdapat sekitar 560 pedagang yang selama ini aktif berjualan di kawasan Pantai Baron. Kebanyakan dari mereka hanya menggantungkan hidup pada kunjungan wisata.

Namun sejak ditutup, Awanto menyebut sejumlah warga kini beralih menggarap lahan pertanian atau menjalani profesi lainnya agar tetap ada penghasilan. Namun, tidak semua pelaku usaha wisata memiliki ruang lain untuk bertahan.

"Mereka yang tidak ada penghasilan lain harus memutar otak untuk bisa bertahan hidup," ujarnya.

Sementara itu, salah satu pemilik rumah makan di Pantai Ngandong Tepus, Rujimanto menyebut kebijakan PPKM Darurat sangat merugikan pelaku usaha di sektor wisata.

Ia menilai kebijakan tersebut dilakukan tanpa adanya dukungan secara ekonomi. Apalagi kini penutupan sudah berlangsung hampir selama sebulan sehingga pelaku usaha di pantai nyaris tidak memiliki pemasukan.

Baca juga: Muncul Isu Pemotongan Bansos di Klaten, Begini Penjelasan Dinas Sosial

"Kalau sudah ditutup begini tentu tidak ada pembeli, dan kami tidak ada pemasukan untuk kebutuhan sehari-hari," kata Rujimanto.

Baik Awanto dan Rujimanto kini mengharapkan ada solusi dari pemerintah dengan kondisi tersebut. Keduanya merasa ada pembiaran terhadap masyarakat yang mengalami kesulitan ekonomi.

Awanto mengungkapkan bahwa bantuan pernah diberikan. Namun hanya dilakukan sekali dan itu pun saat awal pandemi tahun lalu, sedangkan untuk kali ini belum ada bantuan yang diberikan.

"Saat itu bantuannya berupa paket sembako berisi beras dan minyak goreng, setelahnya tidak ada sama sekali," ungkapnya. (alx)

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved