Putri Keraton Yogyakarta Dicurhati Pelaku Wisata, Tolong Kami, Ibu Ratu

Para pengelola wisata di sejumlah daerah semakin berputus asa akibat pandemi Covid-19

Penulis: Ardhike Indah | Editor: Iwan Al Khasni
Dok Tribunjogja.com
GKR Pembayun (kanan) ikut dalam persiapan prosesi Sugengan Tingalan Jumeneng Kaping 24 di Bangsal Kencono, Keraton Ngayogyakarta, Yogyakarta, Selasa (19/06/2012). 

Dari data yang dimilikinya, Anggara menjelaskan saat ini ada hampir 1.000 pelaku wisata Kaliurang terdampak langsung, terdiri dari 303 hotel dan penginapan, 400 pengemudi jip wisata, 74 pedagang jadah tempe, serta 208 warung kecil dan pengrajin cinderamata.

Rismulyono, pengurus sentra jadah tempe di kawasan itu mengatakan pihaknya membutuhkan bantuan modal agar bisa berjualan lagi.

"Tabungan kami sudah habis untuk bertahan hidup selama pandemi dan PPKM, Gusti Ratu. Untuk itu, tolonglah kami para pengrajin jadah tempe untuk mendapatkan modal guna memulai lagi usaha setelah PPKM," kata Rismulyono.

Alih teknologi

Menanggapi berbagai keluh kesah itu, GKR Mangkubumi menyatakan agar masyarakat Kaliurang tidak menyerah.

Dia meminta para pelaku wisata khususnya para pengrajin jadah tempe dan cinderamata untuk mengoptimalkan teknologi informasi guna memasarkan produknya.

Mangkubumi mengajak para pelaku usaha jasa wisata, terutama pedagang untuk melirik cara dan pasar baru, memanfaatkan teknologi.

"Karena pandemi ini memaksa kita mengubah cara dan perilaku hidup, secara mendadak pula. Jadi kita yang harus pandai-pandai menyesuaikan,” ujar GKR Mangkubumi.

Pada kesempatan itu, ia juga membagikan 800 paket sembako melalui Gerakan Kemanusiaan Republik (GKR) Indonesia.

Bantuan itu merupakan upaya GKR Mangkubumi dan putri Keraton Yogyakarta lainnya untuk merespons dampak ekonomi pandemi Covid-19 terhadap masyarakat. ( Tribunjogja.com | Ard )

Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved