Breaking News:

Putri Keraton Yogyakarta Dicurhati Pelaku Wisata, Tolong Kami, Ibu Ratu

Para pengelola wisata di sejumlah daerah semakin berputus asa akibat pandemi Covid-19

Penulis: Ardhike Indah | Editor: Iwan Al Khasni
Dok Tribunjogja.com
GKR Pembayun (kanan) ikut dalam persiapan prosesi Sugengan Tingalan Jumeneng Kaping 24 di Bangsal Kencono, Keraton Ngayogyakarta, Yogyakarta, Selasa (19/06/2012). 

Tribunjogja.com Sleman -- Para pengelola wisata di sejumlah daerah semakin berputus asa, akibat pandemi Covid-19 yang berkepanjangan disertai pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) secara berulang-ulang.

GKR Mangkubumi mengunjungi dan mendengarkan curhatan pelaku wisata dan pedagang di Kawasan Wisata Kaliurang, Kamis (29/7/2021).
GKR Mangkubumi mengunjungi dan mendengarkan curhatan pelaku wisata dan pedagang di Kawasan Wisata Kaliurang, Kamis (29/7/2021). (TRIBUNJOGJA.COM / Ardhike Indah)

Mereka harus menempuh berbagai jalan pahit hanya demi bertahan hidup, karena tak ada pemasukan dari sektor wisata.

Sejumlah pelaku wisata di kawasan Kaliurang, Hargobinangun, Pakem, Sleman mencurahkan isi hatinya (curhat) kepada GKR Mangkubumi, saat putri sulung Raja Kasultanan Yogyakarta, Sultan Hamengku Buwono X itu mengunjungi Tlogoputri, Kamis (29/7/2021).

Mereka merasa kesulitan menghadapi pandemi Covid-19, hingga harus beralih pekerjaan menjadi tukang batu dan lainnya agar bisa menyambung hidup.

“Tolong kami, Ibu Ratu. Kami tidak ingin kehilangan penghasilan dari jip wisata.

"Sekarang, banyak rekan kami yang terpaksa banting setir jadi tukang batu dan pekerja lain agar bisa makan,” ungkap Riswanto yang mewakili para pengemudi jip wisata.

Ganis Ristanto, pemilik warung makan di kawasan itu berharap kebijakan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) segera diakhiri. 

Dia merasa ketakutan jika ada anggota Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) menghampiri dan meminta kegiatan usahanya ditutup.

"Kami sudah berusaha, Gusti Ratu, bagaimana caranya protokol kesehatan bisa dijalankan di sini.

"Salah satunya dengan membuat jarak antarmeja makan, tapi masih saja dioprak-oprak waktu dihampiri patroli. Saya bingung, saya harus terus menggaji karyawan, sedang bila harus memberhentikan karyawan saya nggak tega," keluhnya.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved