Anak Muda Didorong Hadapi Kemunduran Demokrasi

Kegiatan ini bertujuan menyebarluaskan hasil riset mengenai persepsi anak muda terhadap penyempitan ruang sipil.

Penulis: Ardhike Indah | Editor: Muhammad Fatoni
TRIBUNJOGJA/Ardhike Indah
AGENDA - Spill The Research : "Understanding Youth Engagement and Civic Space in Indonesia" yang digelar Yayasan Partisipasi Muda (YPM) bersama Departemen Politik dan Pemerintahan Universitas Gadjah Mada (UGM), Sabtu (30/8/2025) di FISIPOL UGM 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Ardhike Indah

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Indonesia dinilai tengah mengalami pelemahan demokrasi (democratic backsliding). 

Laporan Freedom House (2024) dan Economist Intelligence Unit (2023) mencatat stagnasi hingga kemunduran kualitas demokrasi, terutama pada periode kedua pemerintahan Presiden Joko Widodo. 

Penurunan terlihat pada kebebasan berasosiasi, berkumpul, dan berekspresi.

Isu ini menjadi fokus kegiatan Spill The Research: “Understanding Youth Engagement and Civic Space in Indonesia” yang digelar Yayasan Partisipasi Muda (YPM) bersama Departemen Politik dan Pemerintahan Universitas Gadjah Mada (UGM)

Acara yang diikuti 85 pelajar SMA/SMK dan mahasiswa ini bertujuan menyebarluaskan hasil riset mengenai persepsi anak muda terhadap penyempitan ruang sipil.

Kegiatan dibuka Ketua Prodi S1 Departemen Politik dan Pemerintahan UGM, Dr Mada Sukmajati, yang menekankan pentingnya peran konstruktif pemuda dalam memperkuat demokrasi, Sabtu (30/8/2025) di FISIPOL Universitas Gadjah Mada (UGM)

Executive Director YPM, Neildeva Despendya Putri, menyebut ruang sipil di Indonesia kian menyempit. 

Menurut Civicus Monitor, Indonesia hanya meraih skor 48/100, masuk kategori Obstructed.

“Partisipasi politik bukan sekadar mencoblos. Anak muda juga bisa terlibat lewat demonstrasi maupun aksi kecil di media sosial,” ujarnya.

Peneliti utama, Dr. Muhammad Fajar, menjelaskan risetnya menyoroti strategi anak muda dalam menghadapi penyempitan ruang sipil. 

Temuannya antara lain: rasa aman organisasi sipil dipengaruhi relasi dengan pemerintah, kebutuhan akan jaminan hak politik, hingga strategi kolektif memperkuat jejaring aktivisme.

Dosen Departemen Politik dan Pemerintahan UGM, Alfath Bagus Panuntun, menambahkan bahwa generasi muda harus kritis terhadap politisi muda yang hanya menjual label “muda” tanpa ide segar.

“Indonesia gelap hanya bisa berubah terang ketika generasi muda berkompeten,” tegasnya.

Sementara itu, Nadya Zafira dari Institute of International Studies UGM menilai Indonesia mengalami democratic burnout. 

Ia menyoroti pembajakan mekanisme demokrasi, represi terhadap masyarakat sipil, hingga fragmentasi gerakan sosial.

Melalui kegiatan ini, para pakar menegaskan bahwa keterlibatan anak muda menjadi kunci melawan kemunduran demokrasi sekaligus menjaga ruang sipil tetap terbuka di Indonesia. (*)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved