Kabupaten Sleman
BPBD Sleman Bisa Makamkan hingga 34 Orang dalam Sehari, Tepis Hoax Penumpukan Jenazah
Selama Juni hingga awal Juli 2021 ini, tim bekerja ekstra mengingat ada cukup banyak warga Sleman yang meninggal akibat perburukan Covid-19.
Penulis: Ardhike Indah | Editor: Gaya Lufityanti
Laporan Reporter Tribun Jogja, Ardhike Indah
TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Tim Dekontaminasi, Pemakaman dan Pemulasaraan Jenazah COVID-19 BPBD Sleman masih kewalahan memakamkan jenazah dengan protokol Covid-19.
“Hari ini, hingga pukul 15.00 WIB, kami memakamkan 25 orang di Sleman dengan protokol Covid-19,” ungkap Koordinator Posko Dekontaminasi COVID-19 BPBD Sleman, Vincentius Lilik Resmiyanto kepada Tribunjogja.com, Sabtu (3/7/2021).
Dia menjelaskan, pihaknya memiliki 7 regu yang bertugas.
Masing-masing tim berisi 6-7 personil yang akan memakamkan jenazah dari rumah sakit.
Baca juga: Melihat Bagaimana Para Relawan Pemakaman Covid di Sleman Menjaga Staminanya
Selama Juni hingga awal Juli 2021 ini, Lilik mengakui timnya bekerja ekstra mengingat ada cukup banyak warga Sleman yang meninggal akibat perburukan Covid-19.
“Kemarin, Jumat (2/7/2021), kami memakamkan 34 jenazah dengan protokol Covid-19. Kalau capek, ya capek, tapi ini sudah kewajiban kami,” beber Lilik.
Dia berharap masyarakat tidak mudah termakan hoax yang mengatakan terjadi penumpukan jenazah di RS di Sleman maupun DIY.
Sebab, jika berita hoax seperti itu terus menerus dikonsumsi, maka akan muncul ketakutan dan menyebabkan imun turun.
“Tidak, selama kami bekerja, tidak ada penumpukan. Kewalahan iya, tapi tidak menumpuk. Kalau ada laporan dari rumah sakit ada yang meninggal, ya segera kami ambil,” jelasnya.
Timnya pun membatasi pemakaman sampai malam hari sekitar pukul 19.00 WIB.
Jika tidak begitu, maka pekerjaan memakamkan jenazah tidak kunjung selesai.
Baca juga: PMI Sleman Jaga Kesehatan Personel yang Bertugas Melakukan Pemakaman Jenazah Covid-19
“Kami batasi. Kalau malam ada yang meninggal, kami catat. Besoknya, kami buka posko lagi mulai jam 08.00 WIB. Ini kami lakukan agar kesehatan tim juga terjaga,” papar Lilik.
Beruntung, kini tim Lilik juga sudah dibantu satuan tugas (satgas) dari desa-desa.
Sehingga, jika ada masyarakat Sleman yang meninggal di desa itu, maka pihaknya tinggal mengambil jenazahnya saja.