PMI Sleman Jaga Kesehatan Personel yang Bertugas Melakukan Pemakaman Jenazah Covid-19
Meski angka kematian pasien Covid-19 mengalami peningkatan, namun para relawan yang bertugas melakukan pemakaman tetap siaga dan menjaga stamina
Penulis: Santo Ari | Editor: Kurniatul Hidayah
TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Meski angka kematian pasien Covid-19 mengalami peningkatan, namun para relawan yang bertugas melakukan pemakaman tetap siaga dan menjaga stamina ketika sewaktu-waktu dibutuhkan.
Manajemen SDM pun dilakukan agar semua jenazah pasien Covid-19 dapat dimakamkan dengan tetap mengedepankan protokol kesehatan.
Salah satu tim yang bertugas adalah dari PMI Sleman. PMI Sleman merupakan 1 dari 8 tim di Posko Dekontaminasi Kabupaten Sleman yang salah satu tugasnya adalah pemulasaran dan pemakaman jenazah pasien Covid-19.
Baca juga: Lebih Dari 50 Persen Kasus Kematian COVID-19 di Gunungkidul dari Kelompok Lansia
Sarjuri, tim pemakaman dari PMI Sleman sekaligus staf bidang penanggulangan bencana PMI Sleman mengatakan bahwa peningkatan kasus kematian pasien Covid-19 memang terasa sekali akhir-akhir ini.
"Kalau peningkatan memang terasa sekali, sebelumnya paling sehari sekali, dua hari sekali, sekarang hampir tiap hari," ujarnya Rabu (23/6/2021).
Tim PMI yang bertugas di Posko Dekontaminasi berjumlah 8 orang, namun demikian setidaknya PMI Sleman memiliki 25 personel yang siap bergantian untuk bertugas di posko.
Dengan demikian, stamina dan fisik anggota pun dapat terukur, ketika ada seseorang yang terlihat letih, maka akan digantikan oleh personel lain.
Penjadwalan pun dilakukan agar seluruh personel bisa melakukan pelayanan dan setelah itu ada waktu untuk beristirahat sebelum akhirnya bertugas kembali.
"Kami kan sudah satu tahun lebih dalam kondisi ini. Pertama-tama memang personel PMI saja yang melakukan memakamkan, tapi sekarang timnya tidak hanya dari PMI dan sudah ada satgas di Kabupaten yang melakukan koordinasi," ungkapnya.
Sarjuri menjelaskan bahwa tim pemakaman di PMI Sleman sangat fleksibel. Mereka tak akan membiarkan teman capek sendiri. Jika sudah ada yang terlihat terlalu letih, maka harus ada yang menggantikan.
Jadi, meskipun terjadi peningkatan, namun hal itu tidak terlalu berpengaruh pada kondisi fisik dan mental personel PMI Sleman. Terlebih memang PMI bekerja dengan mementingkan rasa kemanusiaan.
"Ini kewajiban kami, dan kami akan akan terus membantu dengan melakukan yang terbaik. Jadi tingkat stres pun akan lebih minimal walaupun ada peningkatan jumlah kasus," katanya.
Apalagi yang terpenting adalah dukungan dari pihak keluarga. Sarjuri menceritakan bahwa memang di awal pandemi ini tim pemakaman bekerja sangat keras tanpa pulang ke rumah.
"Alhamdulilah semua keluarga dari tim mendukung semua. Di awal pandemi memang agak ekstrem, ketika kami di pemakaman bisa satu seminggu sekali baru pulang. Tapi di pertengahan, kita tahu manajemen risiko dan SOP-nya. Kami semakin siap dan akhirnya sekarang sehari bisa langsung pulang," ungkapnya.
Para personel pun semakin terbiasa dalam menghadapi kendala lain di lapangan, misalnya jarak tempuh yang jauh dan kesulitan medan yang dilalui. Terlebih wilayah Sleman memiliki medan yang cukup sulit, misalnya di area dataran tinggi di wilayah Prambanan Sleman.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/berita-sleman_20180731_185753.jpg)