Kadinkes Gunungkidul Sebut Angka Kematian Tahun Kedua Pandemi COVID-19 Lebih Tinggi

Dinas Kesehatan (Dinkes) Gunungkidul masih berupaya menelusuri penyebab utama tingginya angka kematian karena COVID-19 di wilayahnya.

Penulis: Alexander Aprita | Editor: Kurniatul Hidayah
TRIBUNJOGJA/ Alexander Ermando
Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul Dewi Irawaty 

TRIBUNJOGJA.COM, GUNUNGKIDUL - Dinas Kesehatan (Dinkes) Gunungkidul masih berupaya menelusuri penyebab utama tingginya angka kematian karena COVID-19 di wilayahnya.

Hingga Rabu (23/06/2021) ini, total ada 205 warga yang meregang nyawa karena virus ini.

Kepala Dinkes Gunungkidul Dewi Irawaty bahkan menyebut angka kasus kematian tahun kedua pandemi lebih tinggi dari 2020 lalu.

Baca juga: PMI Sleman Jaga Kesehatan Personel yang Bertugas Melakukan Pemakaman Jenazah Covid-19

"Bisa dilihat dari pergerakan kasusnya, tahun ini tampak lebih tinggi," kata Dewi ditemui siang tadi.

Ia mengaku tidak bisa memperkirakan berapa persen selisih angka kematian antara 2020 dan 2021 ini. Meski begitu, saat paparan di DPRD Gunungkidul pada 20 Juni lalu, rasio kematian COVID-19 mencapai 4,5 persen.

Menurut Dewi, sekitar 10 sampai 15 persen kasus konfirmasi positif membutuhkan penanganan medis. Adapun wilayah dengan angka kematian tinggi berada di Wonosari, Playen, dan Karangmojo.

"Wilayahnya ini kasusnya paling tinggi, bisa jadi kepadatan penduduk ikut berpengaruh," jelasnya.

Sebelumnya Dewi menyebut kebanyakan kasus meninggal dunia terjadi lantaran saat dibawa ke rumah sakit (RS), kondisinya sudah berat. Selain itu, jumlah Tempat Tidur (TT) Kritikal hanya ada 4 unit.

Menurutnya, 4 unit ini kerap penuh pasien. Pihak RS pun sampai tidak bisa menerima pasien baru yang masuk karena kondisi tersebut. Tercatat ada 3 TT Kritikal di RSUD Saptosari dan 1 unit di RSUD Wonosari.

"Hanya 4 TT ini yang memiliki ventilator, tapi oksigen hingga tenaga yang tersedia juga terbilang terbatas," kata Dewi.

Adapun saat ini Gunungkidul sudah memiliki 121 TT COVID-19, tersebar di RS pemerintah dan swasta. Menurut data terkini, sebanyak 103 TT sudah terisi.

Direktur RSUD Wonosari dr. Heru Sulistyowati mengatakan diperlukan tambahan tenaga serta alat kesehatan jika TT Kritikal ditingkatkan. Namun, mencari tenaga tambahan rupanya bukan perkara mudah.

Baca juga: Covid-19 Merebak di Instansi Pemkot Yogyakarta, Legislatif: Pelayanan Publik Jangan Terganggu

"Kami sudah coba merekrut relawan, tapi yang mendaftar sangat minim, mungkin banyak yang takut," ungkap Heru beberapa waktu lalu.

Tenaga penanganan COVID-19 sendiri memiliki kualifikasi khusus, terutama untuk Kritikal. Adapun RSUD Wonosari menyiasati kekurangan tenaga dengan "meminjam" petugas dari bangsal lain.

Heru mengatakan tak sedikit pasien konfirmasi positif COVID-19 datang dengan gejala berat. Kondisi tersebut ditambah keterbatasan TT Kritikal memicu terjadinya kematian.

"Bahkan ada yang meninggal dunia saat dalam perjalanan menuju RS," katanya. (alx)

Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved