Honf Foundation Berawal dari Komunitas Seni yang Fokus Pada Seni dan Teknologi

Biasanya orang-orang lebih mengenal kesenian dengan sebuah rupa atau gambar di atas kanvas. Namun hal tersebut berbeda dengan Honf

Dok Honf Foundation
Karya Galactica dipamerkan di Cemeti Art House tahun 2018 silam 

Namun berkat kreatifitas, live perform tato itu dibuatkan sebuah sensor yang mana ketika proses mentato akan menghasilkan sebuah suara dan gambar digital yang diproyeksikan.

"Itu kita mentato secara langsung, pakai sensor, kita siapkan DJ juga, jadi hasil keseniannya beragam, ada musik, gambar, rupa. Di tahun yang sama juga kita ke Berlin ikut festival terbesar untuk seni, main di pembukaan Transmediale, waktu itu Honf sudah dikenal dengan sains, art, dan teknologi, kita buat karya sebuah sensor sinyal yang dapat menyalakan lampu dan membuat suara eksperimental, kemudian dipadukan dengan bit musik lain," jelas Ira sambil menyuguhkan camilan saat ditemui di kediamannya, di kawasan Tirtonirmolo, Kasihan, Kabupaten Bantul.

Tak hanya itu, Ira yang berkesempatan datang ke Berlin memanfaatkannya untuk berkenalan dengan banyak orang, tentu tujuannya agar dirinya memiliki banyak jaringan yang akan bermanfaat di kemudian hari.

Baca juga: Sri Sultan Hamengku Buwono X: Tidak Lockdown, Saya Tidak Kuat Meragati Semua Rakyat Yogya

Berkat jejaring yang Ira dapat, Honf kemudian banyak mengikuti pameran di luar negeri mulai dari 2005 hingga saat ini.

Kendati demikian, Ira mengungkapkan bila Honf adalah komunitas yang dapat bertahan lama di tengah banyaknya komunitas dan kolektif yang hanya seumur jagung.

"Dulu itu banyak komunitas-komunitas seni selain Honf, tapi mereka tidak bisa bertahan lama karena mungkin tidak serius atau karena kesibukan lain dari pendirinya," kata Ira.

Terakhir, satu hal yang paling dikenal dari Honf ialah ketika Venzha Christ diundang untuk mengikuti serangkaian percobaan hidup di Mars pada bulan Maret 2019 lalu, di Utah, Amerika Serikat. Hal itu didapatkannya berkat keseriusan Venzha ketika di Honf banyak meneliti soal UFO.

Selain itu, ia juga mengikuti bagaimana cara bertahan dalam pesawat yang sedang menuju Mars dengan selama 16 hari diisolasi di sebuah kapal besar pemecah es (ice breaker) milik negara Jepang bernama Shirase 5002. (tsf)

Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved