Honf Foundation Berawal dari Komunitas Seni yang Fokus Pada Seni dan Teknologi

Biasanya orang-orang lebih mengenal kesenian dengan sebuah rupa atau gambar di atas kanvas. Namun hal tersebut berbeda dengan Honf

Dok Honf Foundation
Karya Galactica dipamerkan di Cemeti Art House tahun 2018 silam 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Biasanya orang-orang lebih mengenal kesenian dengan sebuah rupa atau gambar di atas kanvas.

Namun hal tersebut berbeda dengan Honf (House of Natural FIber) sebuah komunitas yang mengenalkan laboratorium seni media baru dari Yogyakarta.

Seni yang mereka tampilkan selalu bersinggungan dengan teknologi yang mempunyai daya guna, selain memiliki bentuk yang estetik, atau bisa kita sebut Honf adalah salah satu komunitas yang menggabungkan kesenian dan teknologi.

Berdiri sejak 1999, kini Honf berdiri sebagai yayasan yang memiliki program yang terstruktur. Pada prakteknya Honf berubah menjadi sebuah wadah untuk saling bertemu dan berbagi, antara akademisi, pekerja seni, hingga ilmuwan.

Baca juga: Sebanyak 6 Santri Positif Covid-19 di Bantul, 49 Santri Lainnya Jalani Swab Massal

Irene "Ira" Agrivina, bersama Venzha Christ dan Sujud Dantarto, Tommy Surya, Istasius adalah orang yang menggagas terbentuknya Honf. Ceritanya kepada Tribun Jogja, saat itu Ira dan kawan-kawan kuliahnya di Institute Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta sering berkumpul di satu rumah.

"Selepas reformasi itu kita masih berstatus sebagai mahasiswa, tahun 1999 itu juga terjadi resesi, perlawanan terhadap rezim Orde Baru sudah selesai, teman-teman yang biasanya ikut demo dan berbagai aksi lainnya jadi lebih sering berkumpul di satu tempat. Dari sana kita iseng-iseng perform, dan karena sudah terbiasa pake teknologi, kita coba-coba seni dan teknologi. tapi sebatas manggung dengan musik elektronik dan visual, kita kerjakan juga di balik layarnya, sebagai artistik, waktu itu karya pertama kita perform audio visual, padahal dulu karya model gitu jarang banget," kata Ira, tempo hari.

Ia juga bercerita kalau ia melihat jika pada tahun tersebut terkesan cuma malas-malasan dan lebih sering berpesta pada malam hari.

Akibat kegelisahan itu pesta yang kerap digelarnya dibuat sebuah karya, seperti saat siapapun yang datang akan menggunakan sensor yang disambungkan dengan suara, hingga membuat bar yang dibuat dari es batu yang akan meleleh sendirinya.

Berangkat dari sana Ira dan kawan-kawan mulai serius menggeluti seni dan teknologi, ia juga menyebut rekannya, Venzha adalah orang yang suka dengan eksplorasi media elektronik dan digital.

Di awal tahun 2.000 mereka membuat sebuah ide untuk menampilkan karya dimuat dalam sebuah mobil pick up, dan dibawa keliling Yogyakarta.

Semua alat yang dipakai untuk membuat karya dibuat sendiri oleh tangan mereka.

Memasuki tahun berikutnya, Honf membuat sebuah karya yang disebut "Sorry, I Change Your Protein!" sebuah karya Bio-Art yang diklaim pertama di Indonesia pada tahun 2001-2002, dengan durasi penggarapannya selama satu tahun.

Dalam pamerannya, beberapa nama penting hadir untuk menilik karya tersebut, semisal, Presiden RI saat ini, Joko Widodo, lalu seorang dokter dan ilmuwan, Anton Christanto dan Yunanto Arliono.

Berselang lima tahun, tepatnya medio 2005, Honf mendapat undangan untuk bertolak ke Singapura. Di sana Honf menampilkan sebuah karya yang terbilang lazim, yakni tatto.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved