Yogyakarta

Pameran Seni Rupa- Pause Rewind Forward #3 Hadirkan Karya Delapan Perupa Perempuan Indonesia

Total 26 karya dipamerkan pada pameran PRF #3 ini meliputi seni rupa media baru, instalasi seni, fotografi, video art, art Performance, dan lain-lain.

Penulis: R.Hanif Suryo Nugroho | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM / Hanif Suryo
Pameran seni rupa Pause, Rewind, and Forward #3 di Kiniko Art Room, Sarang Building Blok II, Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul. 

TRIBUNJOGJA.COM - Karya delapan perupa perempuan dari berbagai daerah di Indonesia terpampang di pameran seni rupa bertajuk 'Pause, Rewind, and Forward (PRF) #3' di Kiniko Art Room, Sarang Building Blok II, Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul, 28 April-25 Mei 2021 pukul 10.00-16.00 WIB.

Delapan perupa perempuan yang karyanya dipamerkan di pameran ketiga PRF ini di antaranya Arahmaiani, Beatrix Hendriani, Bunga Jeruk, Melati Suryodarmo, Lenny Ratnasari, Lini Natalini, Theresia Agustina Sitompul, dan Tita Rubi.  

"Pameran PRF #3 ini menghadirkan seniman yang semuanya perempuan, lintas generasi, lintas daerah ada yang dari Jakarta, Surabaya, Jogja, Solo, juga lintas ide. Saya pribadi melihat seniman ya sebagai seorang seniman, bukan lagi mengkotak-kotakan seniman atau seniwati," ujar Jumaldi Alfi, perupa kontemporer Indonesia sekaligus pemilik Sarang Building.

"Jadi ketika pameran PRF ini kita dedikasikan di awal pandemi COVID-19 itu, ada banyak seniman sekira 30-an. Lalu kita bagi-bagi sesuai slot, nah kebetulan kali kita kumpulkan para perupa perempuan. Soal ini, pasti banyak pertanyaan. Tapi kita nikmati saja pameran ini, dan kepada seniman yang sudah berpartisipasi, saya mengucapkan terimakasih," lanjut Jumaldi.

Baca juga: Pameran Daya Hidup Sebuah Refleksi Semangat Pantang Menyerah Para Seniman

Tajuk pameran 'Pause, Rewind and Forward' berupaya untuk mengajak apresian memaknai wilayah kontemplatif.

Karya seni lahir didasari oleh banyak alasan dan pergulatan psikis, emosional dan artistik dari seniman.

Seniman bisa saja mengambil jeda untuk kembali memaknai karya-karya yang telah diselesaikannya, menarik ulang bentuk dan gagasan karya-karya terdahulu dan menyampaikannya kembali dengan format yang lain.

Sebaliknya, karya seni pun bisa menjadi media kontemplatif bagi para apresian untuk memaknai sesuatu yang merefleksikan dirinya.  

Terlebih, perupa perempuan selalu berhasil menghadirkan karya seni yang menyentuh batas-batas nilai.

Seniman perempuan juga kerap merefleksikan hidupnya dalam karya seni, sehingga melahirkan karya-karya dengan rasa yang dalam.

Sebab itu, pameran PRF yang ketiga ini menarik untuk diamati.

Menelusuri karya-karya pada pameran ini sekiranya mampu memberikan perspektif dan pemahaman terhadap nilai-nilai seni itu sendiri.

Baca juga: Kharisma Sang Raja di Pameran Tahta untuk Rakyat, Sri Sultan Hamengku Buwono IX

Sejatinya, seniman tidak memiliki kuasa atas karyanya, karya seni sepenuhnya dinilai oleh setiap mata yang melihatnya.

"Kami berterima kasih telah diberikan tempat, memfasilitasi, kami para seniman perempuan untuk tampil bersama. Sebab ini pun sangat jarang. Dalam kondisi pandemi yang sudah lebih dari satu tahun, sehingga membuat kita terpisahkan satu sama lain, tapi dengan berkumpul kembali bisa memberikan hal positif lagi. Tidak lagi merasa kita sendiri," ujar satu di antara seniman yang ambil bagian dalam pameran ini, Arahmaiani.

Seniman lainnya, Lenny Ratnasari, menilai di tengah situasi pandemi saat ini menjadi saat yang tepat untuk seniman menata ulang karya-karyanya, sejalan dengan tajuk pameran 'Pause, Rewind, Forward'.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved