Breaking News:

Tanggapi Polemik Selasar Pertokoan di Malioboro, Ini Kata Wali Kota Yogyakarta

Diberitakan sebelumnya, PPMAY meminta selasar atau lorong kawasan pertokoan di Jalan Malioboro-Ahmad Yani ditata ulang.

TRIBUNJOGJA/MIFTAHUL HUDA
Suasana di selasar Malioboro Yogyakarta, Senin (12/4/2021) 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta menyebut Perkumpulan Pengusaha Malioboro Ahmad Yani (PPMAY) tidak bisa serta merta meminta para Pedagang Kaki Lima (PKL) angkat kaki dari selasar toko.

Diberitakan sebelumnya, PPMAY meminta selasar atau lorong kawasan pertokoan di Jalan Malioboro-Ahmad Yani ditata ulang.

Khususnya, soal keberadaan PKL yang dianggap telah menyerobot lahan para pemilik toko.

Wali Kota Yogyakarta, Haryadi Suyuti, berujar bagaimanapun juga PKL sudah memberikan warna tersendiri bagi kawasan Malioboro.

Karena itu, ia berharap, kedua belah pihak bisa menemukan titik temu permasalahan ini.

"Hanya tinggal ditata saja, Malioboro tanpa PKL itu bagai sayur tanpa garam. Tapi, memang harus ditata, ditempatkan yang baik," terangnya, Selasa (13/4/2021).

Baca juga: Polemik Penggunaan Lorong Selasar di Kawasan Malioboro Yogyakarta, Ini Kata PPMAY dan Paguyuban PKL

Baca juga: Tanggapi Keluhan Penurunan Omzet Pengusaha Malioboro, Wali Kota Yogya : Kita Carikan Solusi Terbaik

"Pokoknya, kedepankan hukum yang jelas utuk kedua belah pihak, nggak ada menang-menangan lah. Jangan di bulan puasa malah berkonflik," lanjut Haryadi.

Bukan tanpa alasan, orang nomor satu di Kota Yogyakarta itu menilai selasar pertokoan di sepanjang Malioboro memiliki fungsi sosial yang besar.

Sehingga, komunikasi jelas wajib dikedepankan dalam penyelesaian konflik.

Ilustrasi suasana Malioboro
Ilustrasi suasana Malioboro (TRIBUNJOGJA.COM / Azka Ramadhan)

Dari segi hukum, Haryadi pun mengaku tidak tahu menahu soal status kepemilikan selasar tersebut, meski PPMAY telah mengklaim memegang sertifikat sah yang dikeluarkan oleh pihak Badan Pertanahan Nasional (BPN).

"Saya bukan ahli hukum, konfirmasinya ke BPN, kalau saya bicara kepunyaan ini, atau kepunyaan itu, wong PKL yang dagang juga mau beli," cetus Wali Kota.

Baca juga: Komunitas PKL Malioboro Pastikan Pedagang yang Menolak Vaksinasi Hanya Sebagian Kecil

Baca juga: Pengusaha Malioboro Desak Pemkot Yogya Segera Lengkapi Fasilitas Penunjang Pedestrian

Benar saja, imbuhnya, PKL yang kini menempati lorong di sepanjang Malioboro tidak sekonyong-konyong menaruh lapaknya di sana. Pasalnya, mereka sudah melakukan transaksi 'jual-beli' dengan pendahulunya.

"PKL dagang di sana kan dulunya juga beli, ada transaksi. Yang sekarang ini kan beli, dulu-dulunya bagaimana? Dulu dipakai kan diam, terus sekarang begini jadi ramai, ya," pungkas Haryadi. (*)

Penulis: Azka Ramadhan
Editor: Muhammad Fatoni
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved