Breaking News:

Bantul

Meraup Cuan dari Olahan Limbah Busa, Sutikno Tetap Bisa Pekerjakan 4 Karyawan Meski Pandemi Covid-19

Di tangan Sutikno, warga Panggungharjo, Sewon, Bantul, limbah tersebut bisa diolah kembali menjadi barang nilai-guna.

Tribun Jogja // Ahmad Syarifudin
Pekerja sedang mengolah Limbah busa. 

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL -- Limbah busa, dari sisa potongan atau bekas kasur tak terpakai, umumnya dibuang begitu saja atau dibakar.

Namun di tangan Sutikno, warga Panggungharjo, Sewon, Bantul, limbah tersebut bisa diolah kembali menjadi barang nilai-guna.

Caranya, dengan dicacah dan diolah menjadi busa rebonded, maupun isian bantal dan boneka. 

"Limbah busa itu, memiliki banyak kegunaan dan fungsi," tutur Sutikno, mengawali cerita, saat ditemui Tribun Jogja, di showroom kasur busa miliknya di Panggungharjo, Sewon, Bantul

Pria berusia 54 tahun itu bercerita, sudah lebih dari 20 tahun bergelut dalam usaha produksi sekaligus jual beli kasur busa.

Ia biasa membeli busa dalam bentuk balokan ukuran besar. Menurutnya, semua limbah busa, dari sisa potongan, tidak ada yang terbuang. Hampir semuanya bisa diolah dan dimanfaatkan. 

Baca juga: Dilantik Hari Ini, Boedi Dewantoro Resmi Gantikan Politisi PKS Agus Sumartono jadi Anggota DPRD DIY

Baca juga: Gelar Konsultasi Publik, Ini Fokus Pembangunan Kabupaten Magelang 2022

Semisal potongan busa pertama, kata dia, bisa diolah menjadi kasur lantai. Kemudian, potongan bisa diolah menjadi spons cucian mobil. Lalu, potongan terakhir, bisa dimanfaatkan menjadi spons cucian piring. 

Sementara, limbah busa lainnnya bisa dicacah. Menjadi potongan lebih kecil, bisa digunakan untuk isian Boneka maupun bantal. Bisa juga diolah kembali menjadi busa rebonded. 

"Busa rebonded ini biasanya untuk bahan kursi mobil maupun kasur. Harganya justru lebih mahal," tuturnya. 

Limbah busa yang biasanya dibuang atau dibakar, setelah diolah, menurut Sutikno, mampu menghasilkan nilai ekonomis.

Bahkan, mampu menjadi pekerjaan bagi 4 karyawannya dimasa pandemi. Misalnya saja, untuk spons cucian mobil satu potong dijual Rp 7.500, lalu spons cucian piring Rp 500 rupiah/potong. Bantal dijual Rp 25 ribu sedangkan kasur lantai bisa dijual Rp 275 ribu. 

Meskipun murah, harga tersebut menurutnya menguntungkan, ketimbang dibuang ataupun dibakar.

"Dulu, sebelum tahu diolah, limbah busa potongan hampir 15 karung setiap hari, saya bakar. Sekarang bisa diolah dan lebih menguntungkan," ujar dia.(Tribunjogja/Ahmad Syarifudin)

Penulis: Ahmad Syarifudin
Editor: Hari Susmayanti
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved