Masalah Kesehatan dan Ekonomi Disebut jadi Penyebab Banyaknya Lansia di DIY Bunuh Diri  

Kemiskinan dan kesehatan disebut menjadi masalah yang melatarbelakangi banyaknya kasus bunuh diri dengan korban lanjut usia

Penulis: Santo Ari | Editor: Kurniatul Hidayah
internet
ilustrasi lansia 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Kemiskinan dan kesehatan disebut menjadi masalah yang melatarbelakangi banyaknya kasus bunuh diri dengan korban lanjut usia (lansia).

Mulyanta, Kasi Jaminan Sosial dan Perlindungan Lanjut Usia, Dinas Sosial DIY menyatakan bahwa saat mencari data pendukung untuk raperda kesejahteraan lansia, pihaknya menemukan angka kasus lansia yang bunuh diri cukup banyak, terutama di Gunungkidul.

Di tahun 2019 saja, ada lebih dari 20 lansia mengakhiri hidupnya dengan gantung diri.

"Rata-rata mereka sakit menahun yang tidak kunjung sembuh, tinggal sendiri, termasuk masalah kesulitan ekonomi," ujarnya, Minggu (27/12/2020).  

Baca juga: Satu Rumah Warga di Magelang Habis Terbakar, Diduga Akibat Korsleting Listrik

Baca juga: Surat Hasil Rapid Tes Antigen Tidak Diperiksa Petugas, Begini Pengakuan Wisatawan di Yogyakarta

Rata-rata lansia itu berasal dari keluarga miskin, dan hidup sendiri tanpa pengawasan keluarga.

Sehingga, saat sakit pun tak ada yang mengantarkan dia untuk berobat ke fasilitas kesehatan.  

Namun demikian, ia menyatakan bahwa masalah bunuh diri tak hanya dialami oleh lansia non-potensial saja, namun lansia potensial juga bisa mengalami masalah yang sama.

"Misalnya ada kasus seorang lansia mantan dosen, istrinya sudah meninggal,anak-anaknya karena sukses semua meninggalkan bapak tersebut. Berkali-kali tetangga menemukan lansia itu ingin bunuh diri karena rasa kesepiannya," ujarnya.

Untuk mengatasi hal tersebut, dari Dinas Sosial sendiri akan membuat program pelayanan jangka panjang yang rencananya akan diujicobakan di 2021 nanti.

Tujuan dari program tersebut agar Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS) di tiap desa bisa bekerja secara menyeluruh mencukupi kebutuhan lansia non potensial maupun lansia potensial.

Tidak hanya kebutuhan permakanan saja tapi kebutuhan psiko sosialnya, seperti ditemani, diajak bercerita, diberikan kegiatan bagi yang mampu beraktivitas seperti senam bersama, termasuk mengantar ke puskesmas jika lansia tersebut sakit.

"Sebenarnya mereka itu hanya ingin terpenuhi kebutuhan psiko sosialnya. untuk bercerita dan sebagainya. Maka konsep teman-teman LKS, lansia ini sudah mulai disentuh, dikunjungi, diajak bercerita, kemudian terlibat dalam pertemuan lansia. sehingga mereka merasa tidak sendiri," ungkapnya.

Baca juga: UPDATE 27 Desember: Pecah Rekor! Hari Ini Jumlah Pasien COVID-19 Sembuh Mencapai 6.389 Orang

Baca juga: Jumlah Wisatawan di Pantai Glagah Kulon Progo Menurun Selama Libur Natal dan Tahun Baru Ini

Ia menilai fasilitasi home care tidak hanya dari sosial tapi juga kegiatan kesehatan. Ia pun mengusulkan agar LKS dapat difasilitasi kendaraan.

Ini dimaksudkan agar personel dari LKS dapat mengantarkan lansia yang sakit ke puskesmas atau rumah sakit.

"Tapi ini membutuhkan biaya yang tidak sedikit, membutuhkan kerjasama dari banyak pihak," tuturnya.  

Jika dihubungkan dengan kasus gantung diri, khususnya di Gunungkidul, maka relawan LKS juga harus dibekali kemampuan menafsirkan perilaku lansia, tak hanya kemampuan berkomunikasi.

Kemampuan dari sisi psikologi ini diperlukan untuk mengejawantahkan kebutuhan lansia secara menyeluruh.

Terlebih di Gunungkidul banyak mitos yang berkembang terkait kasus gantung diri.

Dengan langkah tindakan-tindakan tersebut, ia berharap tidak ada lansia yang ditelantarkan atau tidak terlindungi, sehingga kasus bunuh diri dapat berkurang  atau bahkan jadi tidak ada. (nto)  

Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved