Breaking News:

Status Siaga Gunung Merapi

BPPTKG : Intensitas Kegempaan Gunung Merapi Meningkat 2-5 Kali Lebih Tinggi Dibanding Bulan Lalu

Gunung Merapi masih terus menunjukkan aktivitas yang menandakan adanya proses desakan magma menuju permukaan

Penulis: Maruti Asmaul Husna | Editor: Hari Susmayanti
TRIBUNJOGJA.com | Setya Krisna Sumargo
Penampakan Gunung Merapi Desa Candibinangun, Pakem dan Desa Kepuharjo, Cangkringan, Sleman, Sabtu (28/11/2020) . 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Gunung Merapi masih terus menunjukkan aktivitas yang menandakan adanya proses desakan magma menuju permukaan.

Selama November, intensitas kegempaan Gunung Merapi pun meningkat hingga 2-5 kali lebih tinggi dibandingkan Oktober. 

"Intensitas kegempaan pada bulan ini 2-5 kali lebih tinggi dibandingkan bulan Oktober yang lalu," ujar Kepala BPPTKG, Hanik Humaida, Senin (30/11/2020). 

Dalam bulan ini kegempaan Gunung Merapi tercatat 1.069 kali gempa Vulkanik
Dangkal (VTB), 9.201 kali gempa Fase Banyak (MP), 29 kali gempa Low Frekuensi (LF), 1.687 kali gempa Guguran (RF), 1.783 kali gempa Hembusan (DG), dan 39 kali gempa Tektonik (TT). 

Dari aspek visual, tinggi asap maksimum 750 m teramati dari Pos Pengamatan Gunung Merapi Babadan pada 26 November 2020 pukul 05.50 WIB.

Guguran teramati dari Pos Pengamatan Gunung Merapi Babadan dengan jarak luncur maksimal sejauh 3 km di sektor barat ke arah hulu Kali Sat pada 8 November pukul 12.57 WIB.

Hanik menuturkan, analisis morfologi area puncak berdasarkan foto dari sektor tenggara pada bulan ini menunjukkan adanya perubahan morfologi sekitar puncak, yaitu runtuhnya sebagian kubah Lava1954. 

Baca juga: BPPTKG : Hal Ini Menunjukkan Mendekatnya Waktu Erupsi Gunung Merapi

Baca juga: BPBD Sleman Sosialisasi Kesiapsiagaan Mitigasi Bencana ke Wilayah Barat Lereng Merapi

Sedangkan, berdasarkan analisis foto drone pada 16 November 2020, teramati adanya perubahan morfologi dinding kawah akibat runtuhnya lava lama, terutama Lava1997 (selatan), Lava1998, Lava1888 (barat), dan Lava1954 (utara).

"Selain itu belum teramati kubah lava baru," imbuh Hanik. 

Sementara, deformasi atau pemekaran tubuh Gunung Merapi yang dipantau dengan menggunakan EDM pada bulan ini menunjukkan adanya laju pemendekan jarak sebesar 11 cm/hari.

Dari pemantauan gas CO2 Gunung Merapi bulan ini, Hanik mengungkapkan pemantauan gas dari stasiun VOGAMOS (Volcanic Gas Monitoring System) di Lava1953 menunjukkan nilai gas CO2 (ppm) dengan interval waktu setiap ±3 jam untuk pengambilan data. 

"Selama awal bulan ini hingga tanggal 20 November konsentrasi CO2 menunjukkan nilai yang cukup konstan, yaitu rata-rata 525 ppm. Setelah periode tersebut hingga akhir bulan ini menunjukkan peningkatan hingga nilai maksimal sebesar 675 ppm," tandasnya. 

Dari hasil pengamatan dan analisis tersebut, Hanik menyimpulkan terdapat peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Merapi berupa aktivitas kegempaan internal yang mencapai 400 kali/hari, laju deformasi mencapai 11 cm/hari, konsentrasi gas CO2 yang meningkat menjadi 675 ppm, serta
perubahan morfologi puncak akibat intensifnya aktivitas guguran. 

"Data pemantauan ini menunjukkan proses desakan magma menuju permukaan," ucap Hanik. 

Ia menambahkan, status Gunung Merapi masih ditetapkan siaga. Potensi bahaya saat ini berupa guguran lava, lontaran material vulkanik bila terjadi letusan eksplosif dan awan panas sejauh maksimal 5 km. (Tribunjogja/Maruti Asmaul Husna)

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved