Breaking News:

BPBD Sleman Sosialisasi Kesiapsiagaan Mitigasi Bencana ke Wilayah Barat Lereng Merapi

Dua kapanewon yang disasar BPBD Sleman dalam kegiatan ini adalah Kapanewon Turi dan Kapanewon Pakem.

Penulis: Christi Mahatma Wardhani | Editor: Muhammad Fatoni
Twitter @TRCBPBDDIY
Gunung Merapi dari giat pemantauan Merapi melalui udara menggunakan Helikopter @BNPB_Indonesia. Berangkat dari Base Ops @_TNIAU Adisutjipto, Jumat (27/11/2020) pukul 07.32 WIB dan mendarat pukul 09.26 WIB. 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Christi Mahatma Wardhani

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman mulai menyiapkan mitigasi bencana di wilayah barat lereng Gunung Merapi.

Dua kapanewon yang disasar BPBD Sleman dalam kegiatan ini adalah Kapanewon Turi dan Kapanewon Pakem.

Kasi Mitigasi Bencana BPBD Sleman, Djokolelana, mengatakan meskipun saat ini kapanewon yang mendapat rekomendasi hanya Cangkringan, bukan berarti tidak ada potensi bahaya di daerah barat.

Jika tidak ada ancaman awan panas, ada kemungkinan dampak lain yaitu abu vulkanik. 

Baca juga: Hasil Swab 40 Pengungsi Gunung Merapi di Tegalmulyo dan Balerante Klaten Negatif COVID-19

Baca juga: Puncak Gunung Merapi Alami Pemekaran Sebesar 4 Meter, Magma Mendekat ke Permukaan

Menurut dia, abu vulkanik juga perlu mitigasi. Sebab hal itu juga akan mempengaruhi masyarakat.

"(Gunung) Kelud kemarin, kita tidak terkena dampak awan panas, tetapi ada dampak abu vulkanik. Mencontoh seperti Kelud kemarin. Jika Merapi erupsi, kan masih ada kemungkinan ada dampak abu vulkanik. Abu vulkanik mempengaruhi kehidupan masyarakat, misalnya saja saat menanam. Pasti ada perubahan. Nah itu juga perlu dipikirkan,"katanya, Minggu (29/11/2020).

Ia melanjutkan saat ini memang belum ada rekomendasi, namun demikian kesiapsiagaan harus dipersiapkan.

Terlebih bagi wilayah yang dimungkinkan terdampak.

Analisis morfologi area puncak berdasarkan foto dari sektor tenggara tanggal 26 November terhadap tanggal 19 November 2020 menunjukkan adanya perubahan 
morfologi area puncak, yaitu runtuhnya sebagian kubah Lava 1954.
Analisis morfologi area puncak berdasarkan foto dari sektor tenggara tanggal 26 November terhadap tanggal 19 November 2020 menunjukkan adanya perubahan morfologi area puncak, yaitu runtuhnya sebagian kubah Lava 1954. (IST)

Saat ada beberapa daerah yang sudah mendapatkan sosialisasi dari BPBD Sleman, terutama di Kalurahan Girikerto, Wonokerto, dan Purwobinangun.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved