Warga Ngampilan Yogyakarta Minta Sistem Satu Arah di Jalan Letjen Suprapto Disetop
Sejumlah pedagang kuliner di kawasan Jalan Letjen Suprapto Ngampilan protes atas pemberlakuan manajemen lalu lintas pendukung Malioboro
Penulis: Yosef Leon Pinsker | Editor: Kurniatul Hidayah
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Kebijakan manajemen lalu lintas pendukung Malioboro sebagai kawasan bebas kendaraan bermotor kembali menuai protes.
Setelah program itu ditolak oleh pedagang dan pengusaha di kawasan Malioboro, kini manajemen lalu lintas tersebut mendapat penolakan dari pedagang di kawasan Jalan Letjen Suprapto, Ngampilan.
Sejumlah pedagang kuliner di kawasan Jalan Letjen Suprapto Ngampilan protes atas pemberlakuan manajemen lalu lintas pendukung Malioboro bebas kendaraan bermotor.
Sistem giratori yang menjadikan Jalan Letjen Suprapto menjadi satu arah disebut warga berdampak pada omzet pedagang yang kian anjlok.
Baca juga: IHSG Diprediksi Melemah Hari Ini, Berikut Rekomendasi Saham 19 November 2020
Baca juga: Pertarungan Impian Mike Tyson Jika Balik ke Atas Ring Tinju
Baca juga: Jadwal Perbaikan dan Pemadaman Listrik di DI Yogyakarta Hari Ini, Kamis 19 November 2020
Maka itu pedagang maupun warga menggelar aksi penolakan di sekitar kawasan itu dan meminta Pemda DIY maupun Pemkot Yogyakarta untuk menyetop sistem satu arah di Jalan Letjen Suprapto dan kembali memberlakukan sistem dua arah di jalan tersebut.
Sugiyanto, pedagang Bakso PM mengklaim, dampak yang ditimbulkan dari sistem satu arah lebih parah dibanding dengan dampak yang dirasakan di masa pandemi Covid-19.
Warga dan pedagang juga merasakan kesulitan akses.
"Omzet sangat turun drastis, lebih dari 50 persen," katanya, Kamis (19/11/2020).
Dia meminta pemerintah kembali memberlakukan sistem lalu lintas dua arah agar kondisi pedagang kembali normal.
Pasalnya, pedagang mangaku sempat merasakan kondisi normal dan mulai bangkit dari keterpurukan akibat pandemi Covid-19, namun hal itu hanya sebentar karena pemerintah kembali menguat kebijakan yang berdampak pada penurunan omzet.
Sementara, Ketua Forum Komunikasi Masyarakat Ngampilan, AY Sudarmo mengatakan, secara umum pedagang di kawasan itu mengalami penurunan omzet mencapai 60 persen.
Baca juga: Maksimalkan Pengelolaan Aset, Pemda DIY Berencana Dirikan Perusahaan Daerah
Baca juga: Proyek Jembatan Kretek JJLS Bantul - Gunungkidul Ditarget Selesai Lelang Akhir Tahun Ini
Baca juga: Prakiraan Cuaca DI Yogyakarta Hari Ini, Kamis 19 November 2020
"Semua mengeluh, mulai dari yang di Badran sampai Cavinton mengalami penurunan omzet. Bahkan pedagang bakpia yang di KS Tubun juga sama. Kalau situasi seperti ini dibiarkan tentu para pedagang kuliner dan pengusaha lainnya gulung tikar," kata dia.
Sistem lalu lintas satu arah disebut dia juga membuat pengendara jadi cenderung ugal-ugalan.
Dia mengklaim bahwa, pengendara kerap memacu kendaraan mencapai kecepatan 60 kilometer/jam, sehingga cukup membahayakan bagi warga sekitar.
"Kalau dua arah kan semua jadi hati-hati. Baik yang dari Utara ke Selatan maupun sebaliknya. Makanya kami minta lalu lintas ini diberlakukan lagi seperti semula," ujar dia. (jsf)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/demo-tolak-satu-arah-ngampilan.jpg)