Status Merapi Siaga, BPPTKG Yogyakarta Jelaskan Dua Kemungkinan Skenario Erupsi Gunung Merapi

Berdasarkan pemantauan BPPTKG Yogyakarta, intensitas kegempaan di Gunung Merapi meningkat secara intensif.

Tayang:
Penulis: Maruti Asmaul Husna | Editor: Muhammad Fatoni
Tribun Jogja/ Setya Krisna Sumargo
Puncak Merapi dari Pos Babadan 

Menurut Hanik, indikator data pemantauan Gunung Merapi telah melampaui kondisi siaga 2006, sehingga BPPTKG memiliki kemungkinan dua skenario, yaitu skenario ekstrusi magma dengan cepat dan skenario erupsi eksplosif.

“Keduanya berimplikasi estimasi waktu jeda yang pendek sampai dengan kejadian erupsi yang membahayakan penduduk. Saat ini data pemantauan baik seismik maupun deformasi terus meningkat menunjukkan dekatnya waktu erupsi,” ungkapnya.

Kendati demikian, lanjutnya, jika terjadi erupsi eksplosif, kemungkinan tidak sebesar erupsi 2010.

Hal ini didasarkan pada tidak terjadinya kegempaan dalam, menunjukkan tidak ada tekanan berlebihan di dapur magma.

Selain itu, migrasi magma berlangsung pelan ditunjukkan dengan seismisitas VTA yang terjadi, jumlah dan pola peningkatan kegempaan dan deformasi EDM mengikuti pola 2006 yang mana bersifat efusif.

Kemudian, banyak terjadi gempa hembusan menandakan lepasnya gas. 

Visual Gunung Merapi saat dipotret dari Desa Sidorejo, Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten, Jumat (6/11/2020).
Visual Gunung Merapi saat dipotret dari Desa Sidorejo, Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten, Jumat (6/11/2020). (Tribunjogja/ Almurfi Syofyan)

Permintaan Sri Sultan HB X

Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X, meminta BPPTKG Yogyakarta memikirkan analisis terkait  kepastian yang riil soal potensi ancaman lava Merapi.

Sultan menyebut hal itu penting guna mengambil upaya yang komprehensif terhadap potensi bencana alam. 

"Saya ingin kepastian dari BPPTKG, kalau lava meleleh kan itu nggak ada masalah. Tapi kalau pengalaman 2010, itu kan meletus ke atas. Dan kalau itu letusannya setinggi 1.000 -1500 meter saja batunya kan ikut turun," kata Sultan, seusai apel siaga persiapan menghadapi bencana alam, Rabu (11/11/2020) di Mako Brimob.

Sultan melanjutkan, letusan larva itu tidak hanya berdampak pada kawasan di seputar Merapi saja, melainkan bisa sampai ke Kota Yogyakarta jika angin bertiup cukup signifikan. 

"Batu yang berat ya bisa saja cuman terlempar di sekitar Merapi, tapi kalau yang halus kan bisa sampai Kota Yogya kalau anginnya ke selatan. Kan tidak mungkin hanya ke tenggara karena meletusnya ke atas," jelas dia. 

Baca juga: Gunung Merapi Berstatus Siaga, Rumah Sakit di DIY Disiapkan dalam Rencana Penanggulangan Bencana

Baca juga: UPDATE Gunung Merapi, Suara Guguran Terdengar Tiga Kali dan Teramati Satu Kali Berjarak 700 Meter

Sejauh ini, menurut Sultan laporan dari BPPTKG Yogyakarta, lava memang belum tampak di sekitar kubah Merapi.

Pasalnya, lava itu akan muncul jika ada dorongan gas dari bawah yang cukup besar hingga kemudian menyembur. 

"Berarti gasnya ini kan belum maksimal. Kemarin kan keluar gasnya. Jadi ya rada gembos. Semoga gembos saja gitu. Tapi kita kan tidak bisa memperkirakan," lanjut dia. 

Gubernur DIY, Sri Sultan HB X saat meninjau kesiapan perlengkapan dan personel dalam apel siaga menghadapi bencana alam, Rabu (11/11/2020) di Mako Brimob Baciro.
Gubernur DIY, Sri Sultan HB X saat meninjau kesiapan perlengkapan dan personel dalam apel siaga menghadapi bencana alam, Rabu (11/11/2020) di Mako Brimob Baciro. (TRIBUNJOGJA.COM / Yosef Leon)
Sumber: Tribun Jogja
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved