Breaking News:

Kemenko Polhukam RI Lakukan Peninjauan di Tanjung Adikarto Kulonprogo

Dalam rangka menindaklanjuti pembahasan sinkronisasi penataan gelar kekuatan pertahanan dan keamanan

Penulis: Sri Cahyani Putri
Editor: Kurniatul Hidayah
Tribunjogja/ Sri Cahyani Putri
Deputi Bidang Koordinator Pertahanan Negar, Asisten Deputi 4/IV Hanneg, Kemenko Polhukam RI Brigjen TNI Suparjo beserta rombongan didampingi oleh Bupati Kulon Progo Sutedjo saat meninjau Pelabuhan Perikanan Samudera Tanjung Adikarta Kamis (5/11/2020) 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Sri Cahyani Putri Purwaningsih

TRIBUNJOGJA.COM, KULON PROGO - Dalam rangka menindaklanjuti pembahasan sinkronisasi penataan gelar kekuatan pertahanan dan keamanan dengan pembangunan nasional di Provinsi DI Yogyakarta, rombongan Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Kemenko Polhukam) RI yang dipimpin oleh Brigjen TNI Suparjo didampingi Bupati Kulon Progo Sutedjo melakukan peninjauan pembangunan di Pelabuhan Perikanan Tanjung Adikarta yang berada di Kapanewon Temon, Kabupaten Kulon Progo pada Kamis (5/11/2020).

Bupati Kulon Progo, Sutedjo mengatakan bangunan yang menyertai untuk pelayanan aktivitas sebuah pelabuhan di Tanjung Adikarta sudah cukup lengkap hanya saja terdapat kontruksi fisik bangunan yang berupa breakwater atau pemecah ombak belum selesai.

Selain itu juga terjadi pendangkalan di pelabuhan maupun di lintasan pintu masuk ke pelabuhan.

Baca juga: BREAKING NEWS : Rekor Tertinggi, Ada Penambahan 168 Kasus Positif Covid-19 di DIY Hari Ini

Baca juga: Gejala dan Jenis Batuk yang Mengharuskan Anda Segera Periksa ke Dokter

"Memang ada dua breakwater di sisi barat dan timur pelabuhan. Untuk di sisi barat relatif sudah cukup memadai meskipun juga dinilai kurang panjang. Yang kurang panjang lebih banyak di sisi timur untuk menahan ombak maupun sedimentasi berupa pasir laut," katanya seusai peninjauan di Pelabuhan Perikanan Samudera Tanjung Adikarto.

Ia menuturkan, sedimentasi yang terdapat di pesisir pelabuhan yang berada di muara sungai serang itu berupa pasir bukan tanah sehingga sedimentasi tersebut berasal dari laut bukan sungai.

Selain itu, hempasan ombak yang membawa pasir berasal dari arah Tenggara.

"Karena anginnya dari Tenggara maka breakwater yang sebelah timur memang harus lebih panjang ke selatan. Baru kemudian sedikit bengkok ke arah barat supaya menutup ombak dari arah angin berasal sekaligus menahan sedimentasi pasir yang terbawa ombak," sambung Sutedjo.

Dengan demikian, gelombang ombak hanya terjadi pada bagian tepi sebab di bagian tengah tidak akan terjadi gelombang.

Baca juga: Status Siaga Merapi, Sri Sultan HB X Minta Pemkab Sleman Siapkan Jalur Evakuasi

Baca juga: Warga Pelemadu Imogiri Bantul Ubah Tempat Pembuangan Sampah Jadi Destinasi Wisata

Oleh sebab itu, penjorokan Jeti di sebelah timur harus sampai ke tempat dimana air laut sudah tenang sehingga kapal bisa masuk ke tepi pelabuhan.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved