Breaking News:

Pendidikan

Pembelajaran Jarak Jauh bagi Siswa SLB Butuh Peran Besar Orang Tua

Peran orang tua dalam mendukung PJJ bagi anak berkebutuhan khusus (ABK) jauh lebih besar dibandingkan dengan anak lainnya.

TRIBUNJOGJA.COM / Maruti Asmaul Husna Subagio
Kepala SLB Negeri 1 Bantul, Sri Muji Rahayu. 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Maruti Asmaul Husna

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA – Selama pandemi melanda, seluruh kegiatan belajar mengajar (KBM) di sekolah-sekolah di DIY menerapkan sistem pembelajaran jarak jauh (PJJ), tidak terkecuali sekolah luar biasa (SLB).

Dalam pelaksanaannya, peran orang tua dalam mendukung PJJ bagi anak berkebutuhan khusus (ABK) jauh lebih besar dibandingkan dengan anak lainnya.

Kepala SLB Negeri (SLBN) 1 Bantul, Sri Muji Rahayu mengungkapkan selama enam bulan lebih pandemi melanda, SLBN 1 Bantul masih menerapkan PJJ bagi seluruh siswanya.

Ia mengatakan, kemampuan ABK berbeda-beda antar tiap individu, maka perlakuan yang diberikan pun disesuaikan dengan kemampuan anak.

Disdikpora DIY: Pembelajaran di SLB Jangan Sampai Tidak Ada Pertemuan Sama Sekali

“Ada anak yang intelegensinya tidak mengalami hambatan, seperti tuna rungu itu enggak masalah dengan PJJ daring. Memang ada beberapa anak yang mengalami hambatan PJJ daring tapi kan tetap bisa dibantu oleh orang tuanya, jadi pada prinsipnya enggak masalah,” tutur Sri saat ditemui di SLBN 1 Bantul, Kamis (24/9/2020).

Ia menambahkan, bagi siswa yang belum bisa mandiri maupun memiliki keterbatasan dalam memanfaatkan teknologi akan dibantu oleh orang tuanya.

“Jadi guru mengirim bahan disesuaikan dengan kemampuan anak, misalnya kirim lewat WhatsApp, bikin konten YouTube, atau video. Kalau anak belum bisa mengoperasikan HP karena keterbatasannya nanti dibantu oleh orang tuanya, nanti difoto atau divideo, misalnya praktik berkebun, membantu mencuci piring, atau membantu memasak,” paparnya.

Menurutnya, pada beberapa anak dalam satu kelas ada yang tidak sama terkait kedalaman materi yang diberikan.

Namun, anak-anak dengan disabilitas lain semisal tunarungu bisa saja mendapat materi yang sama dalam satu kelas.

Kisah Guru Rahmad Setia Tekuni Profesi Guru di SLB Negeri Batang, Berjalan Pakai Skateboard

“Disesuaikan dengan kemampuan anak masing-masing. Ada yang homogen ada yang heterogen. Masing-masing kelas berbeda-beda. Apalagi antar jurusan. Di sini ada jurusan tunanetra, tunarungu, tunadaksa, tunagrahita, dan autis,” ungkapnya.

Selain pembelajaran harian reguler, lanjut Sri, pihaknya juga menyiapkan meeting room melalui aplikasi Zoom sebagai sarana pertemuan antara guru, siswa, dan orang tua.

Setiap jurusan membuat jadwal untuk kegiatan virtual tersebut.

“Kami memaksimalkan tatap layarnya itu,” imbuh Sri.

“Dukungan orang tua di sekolah kami besar sekali. Sebelum Covid-19 pun kami banyak mendapat dukungan dari orang tua. Sekolah kami pada 2019 mendapat penghargaan Kemdikbud sebagai Sekolah Sahabat Keluarga tingkat nasional. Karena kami mengajak keterlibatan keluarga itu tinggi,” sambungnya. (TRIBUNJOGJA.COM)

Penulis: Maruti Asmaul Husna
Editor: Gaya Lufityanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved