Breaking News:

Wabah Virus Corona

Penjelasan 'Happy Hipoxia', Gejala Baru COVID-19, Penderita Tak Sesak Nafas Meski Kekurangan Oksigen

Penderita tak mengalami sesak napas atau gejala lain, sehingga orang tersebut merasa baik-baik saja.

Shutterstock/Twinsterphoto
Ilustrasi 

TRIBUNJOGJA.COM -Baru-baru ini gejala baru COVID-19 teridentifikasi. Gejala itu bernama happy hypoxia.

Penderita terasa baik-baik saja meski dalam keadaan kekurangan oksigen. Namun jika dibiarkan hal ini bisa berbahaya.

Dokter spesialis paru Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Persahabatan, Erlina Burhan, menjelaskan mengenai salah satu gejala COVID-19 yang baru-baru ini diidentifikasi, yaitu happy hypoxia.

Dokter spesialis paru Erlina Burhan dalam konferensi pers Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 di Graha BNPB, Jakarta, Rabu (1/4/2020).
Dokter spesialis paru Erlina Burhan dalam konferensi pers Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 di Graha BNPB, Jakarta, Rabu (1/4/2020). (DOKUMENTASI BNPB)

Erlina mengatakan, happy hypoxia merupakan suatu kondisi seseorang yang kekurangan oksigen.

Namun, penderita tak mengalami sesak napas atau gejala lain, sehingga orang tersebut merasa baik-baik saja.

"Pasiennya tidak sesak, tidak kelihatan sesak jadi katanya happy-happy saja, nonton TV, masih nge-Zoom, tapi sebetulnya sudah terjadi hypoxia atau kekurangan oksigen," kata Erlina dalam sebuah diskusi virtual, Jumat (4/9/2020).

Sudah Berlangsung 6 Bulan, Kapan Pandemi Virus Corona di Indonesia Berakhir?

Erlina mengatakan, jika seseorang mengalami kekurangan oksigen, biasanya otak akan memerintahkan tubuh untuk mengambil oksigen sebanyak-banyaknya dengan bernapas lebih cepat.

Maka, setelah berolahraga atau berkegiatan berat, biasanya seseorang bernapas dengan tersengal-sengal. Hal itu tidak terjadi pada penderitaCOVID-19  yang mengalami happy hypoxia.

Ilustrasi paru-paru
Ilustrasi paru-paru (yodiyim via kompas.com)

Menurut Erlina, infeksi Virus Corona yang luas akan menghambat sinyal tubuh untuk memberi tahu otak bahwa telah terjadi kekurangan oksigen, sehingga penderita happy hypoxia terlihat bernapas seperti biasa.

"Pada infeksi virus Covid ini sinyal tersebut dihambat oleh inflamasi maka tidak ada sinyal ke otak," ujar Erlina. "Jadi kalau diperiksa darahnya kadar oksigennya rendah tetapi masih tidak sesak, tidak terlihat tersengal-sengal," tuturnya.

Erlina menyebut bahwa happy hypoxia berbahaya lantaran dalam waktu dekat penderita akan mengalami penurunan kesadaran.

Kenali Doomscrolling dan Cara Mengatasinya

Oleh karena itu, Erlina mengimbau orang yang mengalami demam, batuk dan pusing untuk segera menghubungi fasilitas layanan kesehatan terdekat.

"Kalau Anda bergejala segeralah menghubungi fasilitas layanan kesehatan terdekat," ujar Erlina.

"Apalagi kalau kemudian gejalanya bertambah berat, walaupun belum sesak segera datang ke rumah sakit karena kemudian di rumah sakit akan dilakukan pemeriksaan foto thorax dan diperiksa saturasi oksigen anda untuk mengetahui apakah anda kekurangan oksigen atau tidak," tuturnya.(*)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Penjelasan Dokter soal "Happy Hypoxia": Penderita Covid-19 Tak Sesak Napas meski Kekurangan Oksigen"

Editor: Rina Eviana
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved