Pakar Epidemiologi UI : Pemerintah Tak Dengarkan Ahli Soal Penggunaan Rapid Test untuk Tes Covid-19

Pakar Epidemiologi UI : Pemerintah Tak Dengarkan Ahli Soal Penggunaan Rapid Test untuk Tes Covid-19

Editor: Hari Susmayanti
TRIBUNJOGJA.COM / Miftahul Huda
Seorang penumpang sedang menjalani rapid test di stasiun Tugu Yogyakarta sebelum berangkat, Kamis (30/7/2020) 

Sebelumnya, Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito mengakui, rapid test tak selalu akurat dalam mendeteksi virus corona (Covid-19).

Kendati demikian, ia menilai, rapid test masih diperlukan karena keterbatasan alat tes PCR.

Rapid test digunakan hanya untuk screening awal di dalam pemeriksaan Covid-19.

"Rapid test ini digunakan hanya untuk screening, bukan untuk diagnostik. Dengan mengetes antibodi saja," kata Wiku dalam konferensi pers dari Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (18/8/2020).

Wiku mengatakan bahwa setiap metode pemeriksaan memiliki kekurangan, termasuk alat rapid test.

Ia mengakui, alat rapid test bisa memberikan hasil false negative atau false positive.

"Situasi ini terjadi karena antibodi butuh waktu untuk diproduksi setelah gejala muncul dan hasil positif dari rapid test bisa menunjukkan infeksi lain juga," ujar dia.

Meski tak akurat, Wiku menyebut alat ini masih dibutuhkan mengingat keterbatasan kapasitas PCR test saat ini.

Pemerintah masih menggunakan alat ini untuk screening awal, terutama untuk tes yang dilakukan secara massal dan acak.

Apabila hasilnya reaktif, maka baru dilanjutkan dengan swab test.

"Rapid masih digunakan karena kita masih menghadapi keterbatasan kapasitas tes untuk PCR swab test. Di tengah situasi yang terbatas ini, kami melihat bahwa metode ini masih layak untuk digunakan," kata dia.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Pakar Sebut Pemerintah Tak Dengarkan Ahli dan WHO soal "Rapid Test

Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved