Ledakan di Beirut
Ledakan Dahsyat di Beirut Ingatkan Publik pada Bencana Tianjin 2015 Lalu
Hingga Rabu (5/8/2020) pagi waktu Indonesia, ledakan itu setidaknya telah menewaskan 78 orang dan melukai lebih dari 4000 orang.
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Mona Kriesdinar
TRIBUNJOGJA.COM, BEIRUT - Ledakan dahsyat terjadi di Beirut, Lebanon pada Selasa (4/8/2020) petang waktu setempat.
Hingga Rabu (5/8/2020) pagi waktu Indonesia, ledakan itu setidaknya telah menewaskan 78 orang dan melukai lebih dari 4000 orang.
“Ada banyak laporan orang hilang yang masuk ke departemen darurat, namun kami sulit untuk melakukan pencarian di malam hari karena tidak ada listrik,” kata Menteri Kesehatan Lebanon, Hamad Hasan kepada Reuters.
"Kami menghadapi bencana nyata dan perlu waktu untuk menilai tingkat kerusakan," tambahnya.
Dikutip dari CNN, ledakan ini menimbulkan kerusakan besar pada Istana Baabda.
• PM Lebanon Sebut Gudang Bahan Kimia Beirut Telah Ada Sejak 2014
Kediaman resmi presiden Lebanon itu menurut media pemerintah Libanon turut terdampak besarnya ledakan.
Ledakan itu menghancurkan jendela lorong, pintu masuk dan salon, kantor berita Libanon NNA melaporkan, Selasa.
”Pintu dan jendela di beberapa sayap istana terlepas. Tidak ada yang terluka," demikian dalam laporan NNA.
Sementara ini, pihak berwenang menduga kuat berasal dari tumpukan amonium nitrat seberat 2.750 ton di gudang dekat pelabuhan yang menekankan bukan berasal dari rudal.
• Ledakan Beirut Lebanon Diduga Berasal dari Tumpukan 2.750 Ton Amonium Nitrat
Peristiwa ledakan dahsyat di Beirut, Lebanon ini mengingatkan publik pada peristiwa serupa yang terjadi di kawasan industri Tianjin, China pada Rabu (12/8/2015) malam.
Saat itu, terjadi dua kali ledakan dengan ledakan pertama memicu goncangan dengan magnitud 2,3 atau setara dengan ledakan dari 3 ton TNT.
Sedangkan ledakan kedua, memicu goncangan dengan magnitud 2,9 yang setara dengan ledakan dari 21 ton TNT.
• Inilah Penampakan Foto Udara Pelabuhan Beirut Lebanon Sebelum Ledakan
Goncangan ini, bahkan terasa hingga radius 10 kilometer dari pusat ledakan.
"Rasanya seperti bencana gempa bumi pada tahun 1976 silam dengan kekuatan yang menghancurkan kaca jendela. Tapi yang ini diikuti cendawan raksasa ke angkasa, kemudian kami pikir ini justru mirip sedang perang," jelas warga lainnya, Han Xiang.
Setelah ledakan, warga masih dicekam ketakutan lantaran kemudian otoritas setempat mengumumkan adanya bahaya gas beracun dari asap kebakaran.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/ledakan-di-beirut-pada-selasa-petang.jpg)