Jawa

Tak Lagi di Sawah, Menanam Padi di Atas Pipa-pipa Peralon Ala Petani Magelang

Irul pun mengaku baru pertama mencoba menerapkan pertanian padi hidroganik ini. Ia awalnya hanya melihat dari media sosial soal sistem itu dan tertari

Penulis: Rendika Ferri K | Editor: Ari Nugroho
TRIBUNJOGJA.COM / Rendika Ferri
Petani bibit tanaman buah dan hias, Muh Khoirul Soleh (46), dari Dusun Kebonkliwon RT 09/RW 06, Desa Kebonrejo, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang yang menerapkan sistem tanam padi hidroganik dan memanfaatkan ruang kosong di atas kolam ikan rumahnya, Senin (8/6/2020) 

Diantaranya, tidak perlu usaha yang keras untuk mencangkul maupun menyiapkan lahan.

Lahan yang dipakai menanam yakni menggunakan tempat yang telah dibuat tersebut.

Polda DIY Bareng Pengusaha Penggilingan Padi Bagikan Beras ke Pekerja Non Formal di Pasar Senthir

Waktu yang terbuang untuk penyiapan lahan dapat dihemat dan dialokasikan untuk masa panen yang lebih cepat, karena tempat untuk menanam sudah tersedia. Petani hanya tinggal menyemai bibit padi pada media tanam yang sudah ada.

Model seperti ini juga diklaim hemat pupuk, karena kotoran ikan dapat menyuplai nutrisi tanaman, selain adanya kompos dan sekam bakar yang sudah digunakan.

Pertanian ini organik tanpa bahan kimia.

Masa panen bahkan diklaim bisa sampai lima kali.

Kemudian, gulma juga jarang tumbuh. Penyakit tanaman relatif sedikit. Jika adapun, petani dapat melakukan penyemprotan dengan pestisida organik dengan bahan empon-empon dan bahan alami lainnya.

Pertanian model ini dinilai sebagai pertanian berkelanjutan.

“Kontinuitasnya lebih banyak, kalau konvensional panen paling dua sampai tiga kali maksimal satu tahun. Di situ, saya maksimalkan bisa lima kali. Kenapa bisa lima kali, karena seketika umur sudah 70 hari, saya sudah bikin semai. Begitu panen langsung dimasukan lagi nggak usah ngluku (membajak), nggak usah macul (mencangkul). Jadi ada hemat 20 hari, terpangkas 20 hari, saya punya bibit lagi,” ujar Irul.

Irul pun mengaku baru pertama mencoba menerapkan pertanian padi hidroganik ini. Ia awalnya hanya melihat dari media sosial soal sistem itu dan tertarik melakukannya juga.

Padi yang ditanam jenisnya IR64 dan merah putih. Usianya sudah sebulan lebih dan tinggal menunggu satu setengah bulan lagi untuk panen.

"Kolam ikan itu biasanya saya gunakan untuk menyiram bibit dan diatasnya itu tidak ada apa-apa. Saya pun mencoba alternatif menanam padi hidroganik ini siapa tahu bisa menopang ketahanan pangan minimal keluarga,” ujarnya.

Uji Coba Tanam Padi ZR, Petani Bisa Panen Lebih Cepat

Biaya yang dikeluarkan untuk membuat keseluruhan sistem hidorganik ini sekitar Rp 7 juta.

Biaya yang paling banyak dikeluarkan untuk membeli peralon ukuran 4 inchi dan baja ringan untuk penopang saja.

Setelah alat dan medianya terpasang, dapat digunakan terus menerus.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved