Hasil Penelitian Perubahan Perilaku Manusia Setelah Tiga Bulan Bekerja dari Rumah
Jika dihitung, setidaknya sudah tiga bulan warga dunia bekerja dari rumah atau work from home. Bahkan, di Indonesia, sejak pengumuman kasus pertama
Penulis: Bunga Kartikasari | Editor: Iwan Al Khasni
Bukan hanya orang tua yang membutuhkan ruang yang tenang, anak-anak yang lebih tua yang tinggal di rumah mungkin juga dipekerjakan dan membutuhkan ruang mereka sendiri.
Tantangan ini semakin parah ketika 26% pekerja mengatakan mereka tidak memiliki ruang terpisah untuk anggota keluarga yang perlu bekerja dari rumah.
• Penderita Covid-19 Brasil Melejit Salip Inggris dan Italia, Ada Kuburan Massal di Amazon
Selain itu, sebagian besar pekerja mengatakan mereka mengizinkan orang lain di rumah mereka untuk mengakses komputer pribadi yang mereka gunakan untuk bekerja.
Lebih jauh, sekitar 21% pekerja mengatakan mereka pernah mengalami masalah keluarga karena harus bekerja dari rumah.
Ini dapat memengaruhi orang dewasa dan anak-anak, dengan kedua belah pihak menjadi semakin bergantung pada internet untuk bekerja, sekolah, dan bersosialisasi.
Sementara layanan seperti streaming video dan permainan dapat membuat anak-anak terhibur, saat ini beberapa anak mungkin ingin menghabiskan lebih banyak waktu online.
Sepertiga (33%) responden survei mengatakan ada lebih banyak konflik dengan anak-anak mereka mengenai batasan penggunaan internet, dengan 33% juga mengatakan bahwa sekarang jauh lebih sulit untuk mengatur berapa banyak waktu yang dihabiskan anak-anak mereka secara online.
Ketika orang tua perlu fokus pada tugas profesional mereka daripada bermain dengan anak-anak mereka, menemukan keseimbangan kadang-kadang bisa rumit.
Untuk itu, perlu diperhatikan kenyamanan saat bekerja dari rumah. Sebab, tak semua orang bisa merasa nyaman ketika bekerja di rumah.
“Ketika Anda merasa terkekang bekerja di rumah dengan keluarga maupun partner, itu bisa menantang untuk hubungan dan rasa cemas Anda. Maka, saya merekomendasikan untuk mendesain tempat kerja, menjaga rutinitas kerja dan rutinitas di rumah serta menggambarkan waktu kerja dan waktu di rumah dengan jelas,” kata Alene Reva, Wakil Presiden Sumber Daya Manusia (SDM) Kaspersky.
Ia juga mengingatkan untuk membuat semacam alarm agar tetap bisa membedakan jam bekerja dan bersantai. Tidak dapat dipungkiri, masyarakat juga membutuhkan waktu untuk dirinya sendiri.
“Bagi orang yang bekerja di ranah kreatif, mungkin ini adalah masa yang sulit untuk mencari ide. Saran saya, Anda bisa menyiapkan waktu untuk menulis atau menggambar, setidaknya satu jam setiap hari,” ungkapnya.
“Ini juga penting untuk mendiskusikan situasi Anda dengan atasan dan menyetujui beberapa ekspektasi terkait produktivitas Anda,” tandas Reva.
Dengan begitu, bekerja dari rumah bisa menjadi salah satu opsi yang bisa dipilih untuk meningkatkan produktivitas pasca pandemi.
( Tribunjogja.com | Bunga Kartikasari )
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/inilah-hasil-penelitian-dampak-perubahan-perilaku-setelah-tiga-bulan-bekerja-dari-rumah.jpg)