Hasil Penelitian Perubahan Perilaku Manusia Setelah Tiga Bulan Bekerja dari Rumah

Jika dihitung, setidaknya sudah tiga bulan warga dunia bekerja dari rumah atau work from home. Bahkan, di Indonesia, sejak pengumuman kasus pertama

Penulis: Bunga Kartikasari | Editor: Iwan Al Khasni
Loic VENANCE / AFP
Ilustrasi Bekerja dari Rumah 

TRIBUNJOGJA.COM, MOSKOW - Jika dihitung, setidaknya sudah tiga bulan warga dunia bekerja dari rumah atau work from home.

Bahkan, di Indonesia, sejak pengumuman kasus pertama virus corona di dalam negeri, beberapa perusahaan besar sudah menetapkan program kerja dari rumah untuk para karyawan.

Hal itu dilakukan untuk memotong penyebaran virus corona yang bisa saja terjadi di tempat umum, seperti halte bus dan stasiun.

Dengan begitu, tak dapat dipungkiri, ada kebiasaan yang berubah pasca instruksi untuk bekerja dari rumah.

Hal tersebut dapat terlihat dari penelitian Kaspersky.

Tantangan Bekerja dari Rumah, Tidak Memiliki Ruang Terpisah hingga Satu Unit Komputer untuk Bersama
Tantangan Bekerja dari Rumah, Tidak Memiliki Ruang Terpisah hingga Satu Unit Komputer untuk Bersama (shutterstock)

Selama delapan hari selama 9-18 April 2020, Kaspersky melakukan penelitian pada 6.017 pekerja penuh dan paruh waktu di beberapa negara, seperti Spanyol, Jerman, Swedia, Rusia, Meksiko, Brazil dan Kolombia.

Penelitian itu berjudul ‘How Covid-19 Changed the Way People Work’.

Setidaknya, 55 persen masyarakat menjadi semakin sering membaca berita, khususnya dari media daring.

Mereka tetap ingin terhubung dengan dunia dan mengetahui perkembangan penanggulangan virus corona di dunia.

Kegiatan lain yang dilakukan masyarakat selain membaca berita adalah menonton konten edukasi, mendengarkan musik secara daring, bermain game dan menonton video.

Mereka melakukan aktivitas itu dengan gawai yang juga digunakan untuk bekerja.

Meski terlihat menyenangkan, namun bekerja dari rumah bisa menjadi tantangan tersendiri bagi beberapa pekerja.

Work From Home (WFH) atau kerja dari rumah
Work From Home (WFH) atau kerja dari rumah (NET)

Restoran di Amsterdam Pakai Jurus Ini Agar Usaha Tetap Buka Meski Dilanda Wabah Virus Corona

Menurut data penelitian, lebih dari setengah atau 52% pekerja juga memiliki pasangannya yang bekerja dari rumah bersama mereka.

Seperlima atau 23% pekerja yang disurvei mengatakan bahwa anggota keluarga lain bekerja dari rumah juga.

Hal ini dapat membuat lebih banyak tekanan pada keluarga, karena semua orang mencoba menemukan tempat di mana mereka dapat berkonsentrasi pada pekerjaan.

Bukan hanya orang tua yang membutuhkan ruang yang tenang, anak-anak yang lebih tua yang tinggal di rumah mungkin juga dipekerjakan dan membutuhkan ruang mereka sendiri.

Tantangan ini semakin parah ketika 26% pekerja mengatakan mereka tidak memiliki ruang terpisah untuk anggota keluarga yang perlu bekerja dari rumah.

Ilustrasi Bekerja di rumah
Ilustrasi Bekerja di rumah (shutterstock)

Penderita Covid-19 Brasil Melejit Salip Inggris dan Italia, Ada Kuburan Massal di Amazon

Selain itu, sebagian besar pekerja mengatakan mereka mengizinkan orang lain di rumah mereka untuk mengakses komputer pribadi yang mereka gunakan untuk bekerja.

Lebih jauh, sekitar 21% pekerja mengatakan mereka pernah mengalami masalah keluarga karena harus bekerja dari rumah.

Ini dapat memengaruhi orang dewasa dan anak-anak, dengan kedua belah pihak menjadi semakin bergantung pada internet untuk bekerja, sekolah, dan bersosialisasi.

Sementara layanan seperti streaming video dan permainan dapat membuat anak-anak terhibur, saat ini beberapa anak mungkin ingin menghabiskan lebih banyak waktu online.

Sepertiga (33%) responden survei mengatakan ada lebih banyak konflik dengan anak-anak mereka mengenai batasan penggunaan internet, dengan 33% juga mengatakan bahwa sekarang jauh lebih sulit untuk mengatur berapa banyak waktu yang dihabiskan anak-anak mereka secara online.

Ilustrasi Bekerja di rumah
Ilustrasi Bekerja di rumah (shutterstock)

Ketika orang tua perlu fokus pada tugas profesional mereka daripada bermain dengan anak-anak mereka, menemukan keseimbangan kadang-kadang bisa rumit.

Untuk itu, perlu diperhatikan kenyamanan saat bekerja dari rumah. Sebab, tak semua orang bisa merasa nyaman ketika bekerja di rumah.

“Ketika Anda merasa terkekang bekerja di rumah dengan keluarga maupun partner, itu bisa menantang untuk hubungan dan rasa cemas Anda. Maka, saya merekomendasikan untuk mendesain tempat kerja, menjaga rutinitas kerja dan rutinitas di rumah serta menggambarkan waktu kerja dan waktu di rumah dengan jelas,” kata Alene Reva, Wakil Presiden Sumber Daya Manusia (SDM) Kaspersky.

Ia juga mengingatkan untuk membuat semacam alarm agar tetap bisa membedakan jam bekerja dan bersantai. Tidak dapat dipungkiri, masyarakat juga membutuhkan waktu untuk dirinya sendiri.

“Bagi orang yang bekerja di ranah kreatif, mungkin ini adalah masa yang sulit untuk mencari ide. Saran saya, Anda bisa menyiapkan waktu untuk menulis atau menggambar, setidaknya satu jam setiap hari,” ungkapnya.

“Ini juga penting untuk mendiskusikan situasi Anda dengan atasan dan menyetujui beberapa ekspektasi terkait produktivitas Anda,” tandas Reva.

Dengan begitu, bekerja dari rumah bisa menjadi salah satu opsi yang bisa dipilih untuk meningkatkan produktivitas pasca pandemi.

( Tribunjogja.com | Bunga Kartikasari )

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved