Bantul
Merasa Pasir di Daerahnya Dicuri dengan Mesin Sedot, Warga Dusun Babakan Bantul Gelar Unjuk Rasa
Masyarakat Dusun Babakan, Desa Poncosari, Kecamatan Srandakan, Kabupaten Bantul menggelar unjuk rasa, sebagai tindak lanjut dugaan pencurian pasir.
Penulis: Azka Ramadhan | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM - Masyarakat Dusun Babakan, Desa Poncosari, Kecamatan Srandakan, Kabupaten Bantul menggelar unjuk rasa, sebagai tindak lanjut dugaan pencurian pasir, oleh sebuah perusahaan yang menggunakan mesin sedot di daerahnya.
Ketua Paguyuban Penambang Pasir Tradisional Dusun Babakan, Yunarto mengatakan, pencurian pasir yang terjadi di Sungai Progo tersebut dilakukan perusahaan yang sejatinya hanya memiliki izin penambangan di Kulon Progo, atau di sisi barat sungai saja.
Akan tetapi, lanjutnya, karena kondisi pasir telah habis, maka penambangan dilanjutkan hingga Babakan, yang sudah masuk wilayah Bantul.
Alhasil, tindakan tersebut secara gamblang mengancam mata pencaharian para penambang pasir tradisional sepertinya.
• Tempat Wisata di Bantul Jadi Lokasi Karantina Bagi Warga Terdampak Covid-19
"Pasirnya sudah habis, tinggal tanah di bagian atas. Sementara itu, ada aliran Sungai Progo yang deras ya, sehingga lahan pertanian juga terkana dampaknya, karena sewaktu-waktu bisa amblas diterjang air," katanya, Senin (4/4/2020) siang.
Menurutnya, dengan kekuatan 16 mesin sedot, dalam satu hari perusahaan tersebut bisa mendapat 80 truk pasir, yang dihargai sekira Rp 800 ribu setiap truknya.
Sehingga, penambangan yang sudah terjadi dalam dua pekan ini, sangat merugikan pihaknya.
"Kerugian warga bisa mencapai Rp 896 juta. Ironisnya, saat mewabahnya Covid-19 ini, banyak warga Dusun Babakan yang menganggur. Sudah begitu, pasirnya malah dicuri, jadi ya pasti berontak," ucapnya.
Sementara itu, Kepala Dusun Babakan, Agus Sriyono mengungkapkan, warga maupun paguyuban sejatinya tak menggubris penambangan dengan mesin sedot itu, selama dilakukan di Kulon Progo.
• BREAKING NEWS : Update Covid-19 DIY 4 Mei 2020, Nihil Tambahan Kasus Positif, 1 Pasien Sembuh
Namun, masalahnya, aksi tersebut sudah menjamah daerahnya.
Ditambah lagi, ada lahan wedi kengser yang selama ini ditanami oleh warganya secara turun temurun pun ikut terancam.
Bagaimana tidak, pengambilan pasir saat ini, sudah semakin mendekati lahan pertanian itu, sehingga dikhawatirkan bakal amblas.
"Saya mendampingi warga yang merasa dirugikan oleh aksi penambangan dengan mesin sedot ini. Kepolisian harus bertindak tegas agar masyarakat tidak resah, karena ini terkait masalah perut," tegasnya.
Sementara itu, ketika dikonfirmasi secara terpisah, Kabid Humas Polda DIY, Kombes Pol Yulianto mengaku bakal mempelajari dahulu masalah ini.
• Data Bansos Tunai dari Kemensos di Bantul Dinilai Rancu
Menurutnya, kepolisian harus melihat izin penambangan yang dimiliki oleh perusahaan tersebut.