Jejak Penyakit Mematikan Zaman Prasejarah : Dari Fosil Sangiran Hingga Relief Candi Borobudur

Bukti-buktinya tercatat dalam sejumlah artefak. Semisal yang tertinggal pada fosil manusia purba di Sangiran, atau relief yang ada di Candi Borobudur.

Penulis: Setya Krisna Sumargo | Editor: Mona Kriesdinar
Kompas.com
Homo Erectus, yang hidup dari 1,8 juta tahun lalu disebut sebagai manusia purba pertama yang menemukan bahasa dan menggunakannya untuk berburu dan membangun kapal yang digunakan sebagai sarana transportasi menjelajah pulau-pulau terpencil 

Faktor kedua jaringan perdagangan, pelayaran kapal, serta munculnya jalur sutra serta rempah-rempah.

“Faktor ketiga, pola hidup tidak sehat, permukiman padat dan kumuh. Selanjutnya akibat perang/konflik dan keberadaan korban yang terbengkelai,” beber Sofwan.

Sebab lain, kata peneliti yang kini menekuni paleontologi prasejarah, akibat wabah artifisial atau buatan. “Contohnya ya aksi pasukan Sultan Agung di Surabaya dan Batavia,” ujarnya.

Menghadapi peristiwa itu, secara naluriah orang-orang kuno atau masa lalu meresponnya secara naluriah.

Ada yang mengisolasi diri di lingkungan tempat tinggalnya, ketika ada wabah di tempat lain. “Atau bermigrasi alias pindah hunian karena yang lama tercemar,” jelas Sofwan.

Sisi lain, kemunculan wabah itu membuat masyarakat berinisiatif membuat obat, menata lingkungan, berpola hidup sehat, dan lebih religius.

Sementara I Gede Wiratmaja Karang, dalang dan praktisi pengobatan asal Bangli, Bali, menjelaskan wabah di khasanah sejarah Bali dikenal sebagai “sasab” atau grubug.

Ia merujuk prasasti Pura Kehen di Bangli yang menyebut pada masa kuno pernah terjadi sasab atau wabah mematikan di Bangli.

“Banyak penduduk meninggal dunia,” kata Gede Karang, yang memaparkan secara daring di diskusi yang dihelat Puslit Arkenas.

Masyarakat Bali menurutnya memiliki ketahanan tersendiri, perpaduan antara tradisi, budaya, dan tuntutan keagamaan yang sangat kuat.

Menurutnya ada tiga unsur penting yang menentukan apakah orang itu sehat atau sakit. Yaitu unsur Vatta (udara), Pitta (api), dan Kapha (air), serta ditambah unsur tanah.

Dalam lontar Usadha, ketiga unsur itu disebut tri dosha. Mengenai istilah sasab, Gede Karang menjelaskan, secara bahasa Sanskrit, sasab artinya tutup, selimut.

Intrepretasinya, penyakit yang muncul itu penuh rahasia, sebabnya tidak diketahui secara akal, pengobatannya pun sangat rahasia dan tertutup.

Gede Karang menekankan, dalam kultur Bali, ada prinsip manusia disebut sehat jika semua sistem dan unsur pembentuk tubuh yang disebut Panca Maha Bhuta, serta cairan tubuhnya seimbang.

Cara meresponnya, selain menggunakan pengobatan yang dilakukan balian atau sekarang dokter, biasanya juga ada local genius menggunakan ramuan khusus sebagai tolak bala atau jimat.

“Bali hingga hari ini kabarnya belum ada korban meninggal akibat Covid-19, kecuali dua orang itu warga asing,” kata Gede Karang.(Tribunjogja.com/xna)

Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved