Jejak Penyakit Mematikan Zaman Prasejarah : Dari Fosil Sangiran Hingga Relief Candi Borobudur

Bukti-buktinya tercatat dalam sejumlah artefak. Semisal yang tertinggal pada fosil manusia purba di Sangiran, atau relief yang ada di Candi Borobudur.

Penulis: Setya Krisna Sumargo | Editor: Mona Kriesdinar
Kompas.com
Homo Erectus, yang hidup dari 1,8 juta tahun lalu disebut sebagai manusia purba pertama yang menemukan bahasa dan menggunakannya untuk berburu dan membangun kapal yang digunakan sebagai sarana transportasi menjelajah pulau-pulau terpencil 

Di masa berikutnya, ketika masyarakat mulai mengenal gambar, tulisan, semakin banyak jejak yang bisa dibaca pada masa kemudian.

Sejumlah relief di Candi Borobudur, terutama level terbawah bagian Karmawibhangga, menggambarkan bagaimana adegan-adegan terkait penyakit pada masa kuno.

“Ada relief menggambarkan hama tikus yang menyerang tanaman padi. Apakah tikus-tikus itu menyebarkan penyakit, pes misalnya, belum kita ketahui,” kata alumni Arkeologi UGM ini.

Relief lain, kata Sofwan, menggambarkan bagaimana teknik pembuatan obat, pengobatan, dan menangani persalinan berujung kematian.

“Ada ahli obat, mungkin tabib, dukun, sedang meracik obat yang dipanaskan. Ada tukang yang menjaga api, lalu membalurkan ramuan ke bahu dan lain-lain,” jelasnya.

Meski ada relief yang menggambarkan kejadian-kejadian masa lampau seperti di atas, masih belum ada petunjuk signifikan apakah penyakit yang terjadi itu berkategori wabah.

Beberapa jenis penyakit yang muncul dalam berbagai sumber tertulis kuno antara lain bubuhen dan wudunen (bisul).

Ada juga belek dan buler pada organ mata. Gondong, ampang, amis antem, apek, jenis-jenis penyakit kulit. Lalu ada umis (mimisan), humbelen (flu), wudug dan barah (lepra), dan uleren (cacingan).

Kisah berikutnya yang lebih jelas menceritakan terjadinya wabah mematikan, muncul dalam cerita rakyat Calon Arang. Ini kisah berlatar belakang masa pra Kerajaan Kediri.

Menurut Sofwan, dalam kisah Calon Arang diceritakan, ia seorang janda sakit hati, yang ingin membalaskan dendam dengan menyebarkan penyakit mematikan.

“Pagi sakit, sorenya orang mati. Wabah itu dikisahkan sangat mematikan,” kata Sofwan.

Periode berikutnya terjadi di belahan benua lain ketika pasukan Mongol menyerbu Eropa.

Mereka secara tidak sengaja, membawa wabah pes yang disebarkan tikus. “Ini yang kemudian diingat dalam sejarah sebagai black death yang menyapu Eropa,” papar peneliti fosil ‘kingkong” Semedo, Tegal ini.

“Pertanyaan kita, apakah pasukan Tartar yang menyerbu Jawa (targetnya Kartanegara di Singhasari), juga membawa wabah yang sama? Ini belum banyak dikaji,” ujarnya beretorika.

Masuk ke periode selanjutnya abad 16, ketika orang Eropa mulai memasuki Nusantara, mereka membawa wabah cacar. Mulanya di Ternate dan Ambon, lalu menyebar ke berbagai daerah.

Halaman
1234
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved