Jejak Penyakit Mematikan Zaman Prasejarah : Dari Fosil Sangiran Hingga Relief Candi Borobudur

Bukti-buktinya tercatat dalam sejumlah artefak. Semisal yang tertinggal pada fosil manusia purba di Sangiran, atau relief yang ada di Candi Borobudur.

Penulis: Setya Krisna Sumargo | Editor: Mona Kriesdinar
Kompas.com
Homo Erectus, yang hidup dari 1,8 juta tahun lalu disebut sebagai manusia purba pertama yang menemukan bahasa dan menggunakannya untuk berburu dan membangun kapal yang digunakan sebagai sarana transportasi menjelajah pulau-pulau terpencil 

“Wabah yang sama yang dibawa orang Eropa, menghancurkan para penduduk asli Amerika dan Amerika Utara,” lanjutnya.

Lalu di masa Mataram Islam, Sultan Agung pernah dua kali menciptakan wabah untuk menghancurkan lawan-lawan politiknya.

Pertama ketika mengepung dan menaklukkan Surabaya. Pasukan Sultan Agung membendung Kali Mas, memasukkan bangkai dan aren, menyebarkan bakteri serta kuman yang membuat kadipaten itu takluk.

Usaha kedua dilakukan Sultan Agung saat hendak menaklukkan kota VOC di Batavia 1628. Tekniknya sama seperti di Surabaya, pasukannya membendung Kali Ciliwung.

Tapi usaha itu gagal karena Batavia ternyata memiliki sistem cadangan air sumur dan artetis, sehingga penduduk kota benteng Batavia terhindar dari penyakit kolera yang mematikan.

Namun Gubernur Jan Pieterzen Coen akhirnya dikabarkan meninggal akibat kolera, selama masa pengepungan dan usaha penaklukan Batavia oleh raja Jawa itu.

Cara serupa, menciptakan wabah untuk menaklukkan musuh, terjadi saat perang Makassar 1668.

Pasukan VOC dan Bugis banyak yang tewas karena penyakit yang diderita selama peperangan.

Abad 18 diwarnai dua kejadian besar, pandemic kolera dan pes. Diawali letusan gunung Tambora yang super dahsyat 1815, terjadi “importasi” beras dari India.

Beras itu ternyata terkontaminasi bakteri kolera dari delta Gangga, tiba di Jawa, lalu menyebar ke berbagai tempat.

Wabah kolera juga terjadi saat perang Paderi di Tapanuli dan perang Jawa (1825-1830). Pandemi kedua adalah pes yang diduga berasal dari Yunnan, Tiongkok.

Wabah ini melintasi dunia selama beberapa dekade selanjutnya, menyapu sebagian penduduk Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Banten.

Awal abad 20 menurut Sofwan Noerwidi, tikus-tikus pembawa pes menyebar lewat kapal-kapal uap ke enam benua, menyebarkan maut di berbagai tempat.

Secara mendasar, menurut Sofwan, ada sejumlah faktor yang menyebabkan wabah itu begitu cepat tersebar jadi pandemik.

“Ada perubahan lingkungan, bencana, serta migrasi hewan carier,” katanya.

Halaman
1234
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved