Wabah Virus Corona
Peneliti Harvard: Kita Harus Lakukan Social Distancing hingga 2022
Jaga jarak perlu dilakukan untuk mencegah gelombang lain virus corona baru yang bisa saja mengancam jiwa manusia.
Diakui penulis, kelemahan utama dalam model simulasi mereka adalah saat ini masih sangat sedikit yang diketahui tentang seberapa kuat kekebalan seseorang sebelum terinfeksi COVID-19. dan berapa lama hal ini bertahan.
Para ahli hanya mampu berspekulasi, orang yang terinfeksi CCOVID-19 memiliki kekebalan dibanding yang lain sekitar satu tahun.
Tes antibodi yang saat ini mulai dipasarkan ke berbagai negara akan mengetahui apakah seseorang sebelumnya sudah terinfeksiCOVID-19 atau belum.
Ini penting untuk menjawab pertanyaan terkait kekebalan tubuh dan vaksin tetap menjadi senjata pamungkas.
Uji vaksin Virus Corona
Hingga kini para peneliti terus berpacu dengan waktu untuk menemukan vaksin Virus Corona baru penyebab COVID-19.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengungkapkan bahwa pada saat ini, ada 70 kandidat vaksin Virus Corona potensial yang sedang dikembangkan di seluruh dunia.
Tiga di antaranya bahkan telah mencapai tahap uji klinis.
Ilustrasi vaksin virus corona covid-19 (dok.ist/via tribun padang)
Dilansir dari Bloomberg, Senin (13/4/2020); berbagai tim peneliti dari seluruh dunia tengah berlomba-lomba mengembangkan vaksin untuk menangkal Virus Corona
Mereka berharap dapat memangkas waktu yang biasanya dibutuhkan untuk mengembangkan vaksin hingga sampai ke pasaran, sekitar 10-15 tahun, menjadi sekitar setahun saja.
Upaya ini tidak hanya dilakukan oleh raksasa farmasi saja, tetapi juga perusahaan bioteknologi kecil hingga pusat-pusat akademik dan kelompok nirlaba.
• Ditemukan Pasien COVID-19 yang Sembuh Dites Pakai PCR Positif Lagi, WHO Lakukan Penyelidikan
Di antara semuanya, kandidat vaksin yang sudah paling jauh pengembangannya adalah buatan CansSino Biologics Inc., Hong Kong, dan Beijing Institute of Biotechnology.
Sejak mendapatkan persetujuan pemerintah China untuk melakukan uji klinis pada manusia bulan Maret lalu, vaksin hasil kolaborasi kedua institusi ini telah mencapai fase kedua.
Sementara itu, diungkapkan dalam dokumen WHO yang dirilis pada 11 April 2020, dua vaksin lainnya yang juga sudah mulai melakukan uji klinis pada manusia adalah vaksin buatan Moderna Inc. dan Inovio Pharmaceuticals Inc.
Kedua perusahaan ini sama-sama berasal dari Amerika Serikat, namun mengambil rute pengembangan yang berbeda.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/social-physical-distancing-virus-corona.jpg)