Wabah Virus Corona
Peneliti Harvard: Kita Harus Lakukan Social Distancing hingga 2022
Jaga jarak perlu dilakukan untuk mencegah gelombang lain virus corona baru yang bisa saja mengancam jiwa manusia.
TRIBUNJOGJA.COM - Virus Corona jenis baru penyebab COVID-19, kini tengah dihadapi dunia.
Virus Corona yang muncul pertama kali di Wuhan, China akhir 2019 lalu hingga hari ini telah menelan 2 juta lebih orang di berbagai penjuru dunia terinfeksi.
Berbagai upaya dilakukan untuk memutus mata rantai penyebaran COVID-19 yang saat ini menjadi pandemi global, seperti lockdown dan jaga jarak (Social Distancing).
Dalam studi terbaru yang dilakukan ilmuwan Harvard, lockdown yang telah dilakukan beberapa negara tidak cukup untuk menghentikan penyebaran.
Mereka juga menyampaikan, kita mungkin harus melakukan social distancing atau jaga jarak satu dengan yang lain sampai 2022 nanti.
Hal ini perlu dilakukan untuk mencegah gelombang lain virus corona baru yang bisa saja mengancam jiwa manusia.
Hasil kesimpulan itu berdasar pada perhitungan simulasi komputer yang laporannya terbit di jurnal Science, Selasa (14/4/2020). Dituliskan dalam laporan tersebut, COVID-19 akan menjadi penyakit musiman seperti flu biasa, tapi dengan tingkat penularan yang lebih tinggi dan berlangsung selama berbulan-bulan.
Namun peneliti mengaku masih banyak yang belum diketahui, termasuk tingkat kekebalan yang didapat dari infeksi COVID-19 sebelumnya dan berapa lama hal itu akan berlangsung.
"Kami menemukan bahwa melakukan social distancing atau menjaga jarak fisik hanya satu kali kemungkinan tidak cukup untuk menghentikan penyebaran virus corona baru SARS-CoV-2," kata penulis utama studi Stephen Kissler dilansir AFP, Rabu (15/5/2020).
"Yang tampaknya diperlukan adalah menerapkan periode menjaga jarak dengan sistem intermiten atau selang-seling," ungkapnya.
Ahli berkata, durasi dan intensitas lockdown baru dapat dilonggarkan ketika vaksin sudah tersedia.
Namun selagi belum ada vaksin, menjaga jarak dengan orang lain akan membantu rumah sakit meningkatkan kapasitas perawatan klinis, khususnya ketika lonjakan kasus terjadi saat langkah-langkah pencegahan dilonggarkan.
Dikatakan penulis, ketika semua orang menjaga jarak aman, setidaknya dua meter, ini akan membantu petugas medis di garda terdepan untuk meningkatkan kapasitas perawatan terlebih jika ada lonjakan kasus.
Selain itu, kebiasaan jaga jarak yang dilakukan selama dua tahun, diharapkan dapat menghentikan munculnya gelombang kedua COVID-19.
"Bahkan pengawasan terhadap virus ini harus tetap dilakukan karena perkembangan penularan diprediksi bisa saja berlangsung hingga akhir 2024," tulis penulis.
• Hasil Penelitian Profesor di Prancis, Virus Corona Baru Mati di Suhu 92 Derajat Celcius
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/social-physical-distancing-virus-corona.jpg)